Hasil survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkapkan adanya pergeseran signifikan dalam pandangan masyarakat terhadap stabilitas politik di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Mayoritas responden kini cenderung memandang situasi politik nasional dengan nada skeptis dan negatif.

Berdasarkan data yang dirilis pada Senin (27/7/2026), sebanyak 42,8 persen masyarakat menilai kondisi politik nasional saat ini berada dalam kategori buruk atau sangat buruk. Angka ini mencerminkan lonjakan ketidakpuasan yang cukup mencolok dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan bahwa perbedaan mencolok antara penilaian positif dan negatif mengindikasikan ketidakpuasan publik yang kian melebar. Ia menyebut jumlah warga yang menilai kondisi politik saat ini buruk mencapai hampir tiga kali lipat dibanding mereka yang menilai baik.

Tren penurunan ini telah berlangsung secara konsisten dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Pada November 2025, sentimen positif publik masih berada di angka 35,8 persen, sebelum merosot menjadi 27,1 persen pada Maret 2026, dan akhirnya menyusut tajam hingga tersisa 13,5 persen pada Juli 2026.

Deni menambahkan bahwa perubahan drastis ini mencerminkan meningkatnya kecemasan kolektif masyarakat terhadap dinamika politik di tanah air. Pola penurunan ini juga sejalan dengan evaluasi publik terhadap sektor lain, seperti kinerja kabinet secara umum dan situasi ekonomi nasional.

Survei opini publik ini diselenggarakan pada rentang waktu 5 hingga 19 Juli 2026 dengan melibatkan 749 responden pemegang hak pilih di seluruh Indonesia. Pengumpulan data menggunakan metode penarikan sampel acak (random sampling) melalui kombinasi wawancara telepon dan tatap muka, dengan margin of error tercatat sebesar ±3,7 persen.