Mengatur waktu tidur bukan sekadar untuk menghilangkan lelah, melainkan juga menjaga kesehatan organ vital seperti paru-paru. Kebiasaan begadang maupun tidur berlebihan ternyata berkorelasi langsung dengan peningkatan berbagai keluhan pernapasan, mulai dari batuk, mengi, hingga sesak napas.

Spesialis Paru dari Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Erlina Burhan, mengingatkan masyarakat akan pentingnya porsi tidur yang seimbang. Durasi istirahat yang tidak tepat, baik terlalu singkat maupun terlalu lama, dapat mengganggu proses pemulihan alami tubuh yang krusial bagi sistem pernapasan.

Berdasarkan analisis data dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) di Amerika Serikat yang melibatkan 14.742 responden dewasa, terungkap bahwa durasi tidur ideal berada di angka 7 hingga 8 jam per malam. Kelompok yang tidur dalam rentang waktu tersebut tercatat memiliki keluhan pernapasan paling minim.

Hasil penelitian ini membentuk pola kurva berbentuk huruf U, di mana gangguan kesehatan paru-paru cenderung meningkat pada kelompok yang kurang tidur maupun yang tidur terlalu lama. Tidur berlebihan sering kali dikaitkan dengan adanya indikasi peradangan laten dalam tubuh, sementara kurang tidur menghambat regenerasi sel saluran napas.

Selain keluhan ringan, durasi tidur yang sangat pendek juga dikaitkan dengan risiko penyakit paru kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Meski studi ini bersifat observasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak, Prof. Erlina mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menjaga jadwal tidur demi investasi kesehatan jangka panjang.