SURAKARTA — Maraknya komentar nir-empati oknum tenaga kesehatan (nakes) terhadap pasien BPJS Kesehatan di media sosial memicu sorotan tajam publik. Menanggapi isu ini, akademisi dari Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menilai akar masalah tersebut tidak hanya terletak pada ranah etika personal, melainkan juga bertalian erat dengan beban kerja, tata kelola rumah sakit, serta jaminan kesejahteraan para nakes.
Dosen Fakultas Kedokteran UMS, Dr. dr. Yusuf Alam Romadhon, Sp.KKLP, M.Kes, menekankan bahwa profesionalisme nakes mutlak dijaga dalam segala kondisi. Ia mengingatkan bahwa ruang digital merupakan wilayah publik, sehingga ekspresi atau opini yang dilontarkan para praktisi medis di media sosial harus tetap mencerminkan marwah profesi yang luhur.
Kendati demikian, Yusuf memaparkan bahwa lonjakan luar biasa jumlah peserta BPJS Kesehatan acapkali tidak diimbangi dengan kapasitas daya tampung fasilitas medis yang memadai. Ketimpangan ini berisiko memicu kelelahan fisik dan mental ekstrem alias burnout pada nakes. Kondisi inilah yang dinilai kerap menurunkan kontrol emosi dan kualitas komunikasi verbal mereka saat bertugas.
Guna mengatasi penumpukan pasien dan memangkas waktu tunggu kamar, Yusuf menyarankan agar pihak manajemen rumah sakit menerapkan analisis rantai nilai (value chain) yang ketat. Pemanfaatan teknologi informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) dapat digunakan untuk memproyeksikan lonjakan kunjungan pasien secara akurat. Selain itu, kehadiran supervisor lapangan yang tanggap dinilai krusial untuk mengurai hambatan birokrasi layanan secara langsung.
Langkah taktis lainnya meliputi optimalisasi penyaringan pasien di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) agar rujukan ke rumah sakit benar-benar diperuntukkan bagi kasus akut. Manajemen rumah sakit juga didorong untuk melibatkan keluarga dalam proses pemulihan pasien secara aktif, yang terbukti efektif memperpendek masa rawat inap (length of stay) sehingga ketersediaan ranjang segera berputar bagi pasien lain.
Bagi Rumah Sakit UMS sendiri, Yusuf mendorong internalisasi budaya pelayanan humanis yang berlandaskan prinsip keseimbangan kehidupan dan kerja (work-life balance). Dengan operasional yang berjalan 24 jam, pemenuhan hak-hak nakes harus setara dengan tuntutan kinerja mereka. Ia juga menambahkan bahwa setiap keluhan atau komplain pasien semestinya disikapi sebagai bahan evaluasi konstruktif untuk meningkatkan loyalitas pasien.