Sebuah riset skala besar yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open memberikan harapan baru dalam upaya pencegahan penurunan fungsi kognitif. Studi yang melibatkan lebih dari 1.800 partisipan lansia di Swedia ini menemukan bahwa pola makan yang rendah potensi inflamasi memiliki korelasi kuat dalam menekan risiko demensia di masa tua.

Selama periode pengamatan hingga 15 tahun, para peneliti memantau kaitan antara pola konsumsi dengan biomarker penyakit Alzheimer serta cedera otak. Hasilnya menunjukkan bahwa partisipan yang konsisten menjaga pola makan antiinflamasi memiliki risiko demensia 29 persen lebih rendah, bahkan pada kelompok yang memiliki indikator biologis penyakit Alzheimer yang tinggi.

Dr. Leana Wen, profesor klinis di George Washington University, menegaskan bahwa temuan ini menjadi pengingat penting akan peran krusial gaya hidup sebagai faktor risiko yang dapat dimodifikasi. Meski usia dan genetika bersifat permanen, pilihan nutrisi harian terbukti menjadi instrumen efektif dalam menjaga kesehatan saraf otak jangka panjang.

Pola makan antiinflamasi yang dimaksud dalam penelitian ini menekankan pada asupan makanan utuh seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, dan polong-polongan. Sebaliknya, konsumsi minuman berpemanis, daging merah, serta makanan ultra-proses (UPF) sangat disarankan untuk dibatasi karena potensi peradangan kronis yang ditimbulkannya.

Meskipun peradangan adalah mekanisme alami tubuh dalam melawan cedera, proses inflamasi ringan yang berlangsung bertahun-tahun dapat merusak pembuluh darah dan memicu kerusakan sel saraf. Kendati demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa kesehatan otak merupakan aspek kompleks yang juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pola hidup bersih dari rokok, kesehatan pembuluh darah, dan konsumsi alkohol yang terkontrol.