JAKARTA — Persoalan limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini membebani sektor lingkungan kini menemukan titik terang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan teknologi pirolisis guna mengonversi limbah tersebut menjadi produk bernilai tambah, mulai dari energi alternatif hingga bahan kimia berbasis hayati. Terobosan ini dinilai mampu menjawab dua tantangan besar sekaligus: pengelolaan limbah pertanian dan diversifikasi sumber energi nasional.

Sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia menghasilkan limbah TKKS dalam jumlah sangat besar. Tanpa penanganan yang tepat, limbah ini memerlukan waktu lama untuk terurai secara alami dan berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Kondisi inilah yang mendorong tim riset BRIN untuk mencari solusi pemanfaatan yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Dieni Mansur, Ketua Tim Riset Pirolisis Minyak Biomassa dari Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, menerangkan bahwa pemanfaatan limbah biomassa menjadi energi dan bahan kimia hayati merupakan langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. "Minyak pirolisis digunakan untuk mendukung diversifikasi bahan bakar di Indonesia. Di sisi lain, tandan kosong kelapa sawit merupakan limbah yang jumlahnya sangat besar sehingga perlu ditanggulangi secara optimal," kata Dieni, Kamis (25/6/2026).

Secara teknis, proses pirolisis dapat dilakukan dengan metode pemanasan lambat, cepat, maupun sangat cepat. Fasilitas reaktor yang dimiliki BRIN saat ini mendukung pengolahan TKKS menggunakan metode pirolisis lambat dengan durasi proses berkisar dua hingga empat jam. Dari proses tersebut, dihasilkan tiga produk utama: asap cair, minyak biomassa (bio-oil), dan arang hayati (bio-char).

Masing-masing produk memiliki potensi pemanfaatan yang luas. Asap cair, misalnya, dapat diformulasikan sebagai pelapis alami untuk memperpanjang daya simpan buah-buahan. Bahan ini juga berpeluang dikembangkan menjadi material berbentuk film yang bermanfaat dalam penyembuhan luka pada rongga mulut. Sementara itu, minyak biomassa dan asap cair mengandung beragam senyawa organik penting seperti fenol, asam asetat, keton, dan metanol yang banyak dibutuhkan dalam industri kimia.

Dieni menambahkan bahwa minyak biomassa dari TKKS saat ini sudah dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler industri. Meski belum bisa digunakan langsung sebagai bahan bakar tunggal kendaraan bermotor, kandungan senyawa kimia di dalamnya memiliki potensi sebagai aditif bahan bakar cair seperti bensin. "Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi alternatif dan bahan kimia berbasis hayati yang lebih berkelanjutan," jelasnya.

Pendekatan ini dipandang sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mengutamakan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Dengan mengubah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, riset pirolisis BRIN tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah pertanian, tetapi juga membuka jalan bagi penyediaan sumber energi terbarukan yang berbasis potensi lokal.

"Ke depannya, kami berharap pirolisis tandan kosong kelapa sawit dapat membantu mengatasi permasalahan limbah sawit sekaligus menjadi salah satu alternatif diversifikasi energi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujar Dieni optimistis.

Dengan cadangan biomassa yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal. Pengembangan teknologi pirolisis oleh BRIN menjadi bukti bahwa limbah pertanian bukan sekadar tantangan lingkungan, melainkan juga aset strategis yang mampu mendukung ketahanan energi nasional serta mempercepat transisi menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan.