Integrasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini telah merambah ranah pendidikan agama Islam, mulai dari pencarian literatur keislaman hingga penyusunan materi dakwah. Namun, sebuah penelitian terbaru menyoroti adanya disparitas dalam cara pandang dan pola pemanfaatan teknologi ini antara kelompok Muslim tradisional dan modern, yang dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan serta corak keberagamaan masing-masing.

Penelitian yang berlangsung sepanjang Juni hingga Juli 2026 ini melibatkan 367 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia dan Malaysia. Menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM), para peneliti menganalisis bagaimana variabel kemudahan penggunaan dan persepsi manfaat memengaruhi niat mahasiswa untuk mengadopsi teknologi AI dalam aktivitas akademik mereka.

Hasil analisis SEM-PLS mengungkapkan bahwa secara umum, mahasiswa Muslim memberikan respons positif terhadap eksistensi AI. Kendati demikian, melalui Multi-Group Analysis (MGA), ditemukan perbedaan mendasar dalam proses pengambilan keputusan penggunaan teknologi. Mahasiswa dari kelompok tradisional cenderung memiliki pertimbangan yang lebih pragmatis terhadap tingkat kemanfaatan AI, sementara mahasiswa kelompok modern lebih didorong oleh sikap positif terhadap inovasi digital itu sendiri.

Temuan ini memberikan kontribusi strategis bagi pengembangan literasi digital keagamaan yang lebih inklusif. Peneliti menekankan pentingnya strategi implementasi yang adaptif, di mana integrasi AI dalam dunia pendidikan Islam harus memperhatikan karakteristik budaya dan orientasi keberagamaan pengguna agar dapat berjalan efektif dan relevan.

Selain memberikan wawasan mendalam mengenai adopsi teknologi, riset ini juga selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG), khususnya pada aspek peningkatan kualitas pendidikan, penguatan inovasi digital, serta pengukuhan kolaborasi akademik lintas negara antara Indonesia dan Malaysia.