Tren resistensi antimikroba (AMR) atau resistensi antibiotik pada anak-anak secara global dilaporkan terus mengalami peningkatan signifikan. Menurut riset terbaru yang dipimpin oleh University of Sydney (USYD), kondisi kritis ini diproyeksikan akan semakin memburuk dalam kurun waktu sepuluh tahun ke depan, sehingga mengancam efektivitas obat-obatan penyelamat nyawa.

Penelitian berskala besar ini menganalisis lebih dari 106.000 sampel infeksi pada anak-anak berusia hingga 18 tahun yang tersebar di 82 negara sepanjang periode 2004 hingga 2022. Hasil studi menunjukkan bahwa lonjakan resistensi terjadi di seluruh wilayah geografis, dengan dampak paling parah dirasakan oleh bayi dan anak-anak di unit perawatan intensif (ICU) serta mereka yang tinggal di negara-negara berkembang dengan keterbatasan sumber daya medis.

Bakteri yang kebal terhadap antibiotik berevolusi untuk bertahan hidup dari pengobatan standar, sehingga infeksi yang biasa ditangani kini menjadi sangat sulit disembuhkan. Kelompok anak-anak menjadi yang paling rentan terhadap ancaman ini karena tingginya frekuensi infeksi bakteri pada usia dini, sementara pilihan formulasi obat yang aman bagi mereka jauh lebih terbatas dibandingkan dengan pasien dewasa. Data tahun 2021 bahkan mencatat sekitar 840.000 kematian balita di seluruh dunia berkaitan erat dengan komplikasi AMR.

Laporan yang dipublikasikan dalam jurnal medis bergengsi JAMA Pediatrics ini menyoroti bahwa resistensi melonjak tajam pada kategori antibiotik yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) diklasifikasikan sebagai "pilihan terakhir" (last resort) atau yang harus diawasi dengan ketat. Bakteri Gram-negatif seperti Acinetobacter baumannii dan Klebsiella menjadi pemicu utama resistensi ini, dengan laju infeksi Klebsiella terpantau berkembang paling cepat di kawasan Asia Tenggara, Eropa Timur, serta Pasifik Barat.

Sebagai langkah pencegahan, tim peneliti lintas negara dari Australia, China, dan Amerika Serikat ini meluncurkan platform pemantauan digital bertajuk "AMR in Kids". Sistem ini dirancang untuk memetakan proyeksi resistensi bakteri di berbagai negara hingga tahun 2035 guna memandu dokter dalam memberikan resep secara tepat. Selain itu, para ahli mendesak pentingnya penyusunan panduan dosis ramah anak serta peningkatan investasi dalam penelitian klinis guna menciptakan alternatif pengobatan yang aman.