Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) melalui program SUMU Catalyst berkolaborasi dengan Center for Quality, Resilience and Sustainability (CQRS) Indonesia menyelenggarakan webinar bertajuk "Situasi Boleh Krisis, Tapi Bisnis Harus Mampu Bertahan". Forum virtual ini fokus membedah strategi penerapan Sistem Manajemen Kelangsungan Usaha (SMKU) atau Business Continuity Management (BCM) di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hadir sebagai pembicara utama, Pendiri CQRS Indonesia Yuliasman Chaniago menjelaskan perbedaan mendasar antara manajemen risiko konvensional dan BCM. Menurutnya, jika manajemen risiko berfokus pada langkah preventif untuk mencegah potensi gangguan, maka BCM berperan aktif memastikan fungsi-fungsi vital bisnis tetap beroperasi saat krisis benar-benar melanda. Ketahanan bisnis sejati terletak pada kesiapan organisasi untuk tetap berjalan meski dalam kondisi darurat.
Yuliasman juga menyoroti pentingnya kecepatan dalam pengambilan keputusan saat krisis terjadi. Dalam situasi mendesak, pelaku usaha dituntut mengambil keputusan yang cepat dan memadai ketimbang menunggu keputusan yang sempurna namun terlambat. Kecepatan respons dinilai krusial untuk mencegah dampak krisis meluas secara tidak terkendali.
Lebih lanjut, webinar ini mengulas pentingnya metode Business Impact Analysis (BIA) guna memetakan proses bisnis yang paling kritis serta ketergantungannya pada aspek teknologi, data, dan vendor pihak ketiga. Pelaku usaha juga dikenalkan dengan konsep Recovery Time Objective (RTO) sebagai batas toleransi kerugian sebelum layanan dipulihkan secara normal.
Melalui inisiatif SUMU Catalyst, Serikat Usaha Muhammadiyah berkomitmen untuk terus memfasilitasi peningkatan kapasitas para pelaku usaha di lingkungan Muhammadiyah. Langkah ini diharapkan mampu mengubah kesiapan menghadapi krisis dari sekadar kepatuhan dokumen menjadi bagian dari budaya dan DNA organisasi agar bisnis dapat terus tumbuh berkelanjutan.