Keberanian mengambil keputusan investasi di tengah fluktuasi pasar finansial membawa kesuksesan bagi Muhammad Tatang (26). Pemuda asal Kabupaten Pandeglang, Banten, yang sebelumnya merintis usaha jual-beli ponsel dan jasa fotografi ini, kini berhasil membuktikan diri sebagai investor ritel yang jeli memanfaatkan momentum koreksi pasar saham.
Langkah berani Tatang dimulai saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga menyentuh level 5.300 pada Juni 2026 lalu. Alih-alih panik seperti investor pemula pada umumnya, ia justru melipatgandakan portofolio investasinya demi menangkap peluang dari koreksi pasar tersebut.
Keputusan Tatang memang tergolong ekstrem. Demi menambah modal investasi, ia rela melego sekitar 90 persen peralatan kamera dari bisnis rental fotografi miliknya, Hallophoto. Kendati demikian, ia tetap menyisakan sebagian kecil alat kerja agar unit usahanya tetap bisa berjalan sebagai penyokong arus kas harian.
Ketertarikan Tatang di dunia pasar modal sejatinya sudah bermula sejak tahun 2019, kala ia masih menjadi mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi. Tugas kuliah untuk membuka rekening efek menjadi gerbang pembuka perkenalannya dengan dunia saham, meskipun perjalanan awalnya sempat diwarnai kerugian akibat minimnya pemahaman.
Kegagalan awal tersebut tidak lantas mematahkan semangatnya. Tatang memilih untuk belajar mandiri, mendalami analisis teknikal dan fundamental, serta melatih kedisiplinan agar tidak terjebak tren ikut-ikutan (FOMO). Pengalaman pasar selama fluktuasi di masa pandemi Covid-19 juga turut mematangkan mentalitas investasinya.
Bermodal awal hanya Rp100 ribu, Tatang kini memetik buah dari konsistensi dan manajemen risiko yang matang. Di akhir bincang-bincang, ia berpesan kepada generasi muda agar tidak memandang pasar modal sebagai jalan pintas menjadi kaya tanpa ilmu, melainkan sebagai instrumen investasi yang membutuhkan kesiapan mental serta analisis yang terukur.