PT Asuransi Asei Indonesia mengambil langkah strategis dengan memperketat proses seleksi risiko (underwriting) pada lini bisnis asuransi rekayasa (engineering insurance). Kebijakan ini diambil guna mengantisipasi berbagai tantangan industri yang mengemuka sepanjang semester pertama tahun 2026.

Direktur Utama Asuransi Asei Indonesia, Dody Dalimunthe, menjelaskan bahwa perlambatan bisnis ini dipicu oleh penundaan beberapa proyek pemerintah serta evaluasi kelayakan risiko di sekitar lokasi proyek. Kondisi tersebut memaksa perusahaan untuk lebih selektif dan memilih tidak menerbitkan polis pada proyek yang dinilai memiliki tingkat risiko terlalu tinggi.

Selain penundaan proyek, faktor alam seperti bencana banjir di sejumlah wilayah turut memengaruhi performa kuartalan perusahaan. Kerusakan fisik pada lokasi pertanggungan akibat cuaca ekstrem tersebut memicu peningkatan pada cadangan klaim sepanjang paruh pertama tahun ini.

Merespons dinamika tersebut, Asuransi Asei kini fokus pada pengelolaan risiko yang lebih ketat sekaligus memberikan rekomendasi mitigasi kepada para tertanggung. Langkah kehati-hatian ini dinilai sangat krusial karena pelaku usaha saat ini juga kian selektif dalam menanamkan investasi mereka.

Ke depan, perusahaan tidak sekadar mengejar pertumbuhan premi secara agresif, melainkan memprioritaskan kualitas portofolio dan profitabilitas yang sehat. Optimisme bisnis rekayasa diprediksi tetap terjaga hingga akhir tahun, ditopang oleh kelanjutan proyek strategis nasional, investasi industri, serta sektor energi dan hilirisasi.