Persediaan amunisi vital militer Amerika Serikat dilaporkan mengalami penyusutan drastis seiring dengan eskalasi konflik yang melibatkan Iran. Situasi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan analis pertahanan mengenai kesiapan Washington dalam menghadapi potensi ancaman dari aktor lain, khususnya China dan Korea Utara.

Mark Cancian, analis pertahanan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), mengungkapkan bahwa intensitas pertempuran dalam lima hari terakhir telah menguras cadangan senjata secara signifikan. Berdasarkan data internal Departemen Pertahanan AS, Pentagon tercatat telah menghabiskan sekitar setengah dari stok pencegat rudal balistik THAAD dan hampir separuh dari rudal pertahanan udara Patriot. Selain itu, sekitar 30% persediaan rudal jelajah Tomahawk juga telah habis digunakan sejak Operasi Epic Fury dimulai.

Tantangan utama yang dihadapi Pentagon saat ini adalah lambatnya proses produksi ulang. Meskipun Presiden Donald Trump telah mengaktifkan Defense Production Act guna mempercepat manufaktur, kapasitas industri pertahanan domestik dinilai belum mampu mengimbangi tingkat konsumsi amunisi di medan tempur. Estimasi dari berbagai pakar menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu antara dua hingga lima tahun untuk mengembalikan stok rudal ke level semula.

Di sisi lain, upaya diversifikasi produksi ke negara-negara mitra seperti Jerman dan Jepang menghadapi kendala waktu dan teknis yang cukup lama. Meski Pentagon tetap menegaskan bahwa militer AS masih memiliki kemampuan operasional yang memadai, para pengamat memperingatkan bahwa pengikisan stok amunisi ini dapat melemahkan daya tangkal strategis Amerika Serikat di panggung global dalam jangka panjang jika tidak segera diatasi melalui alokasi anggaran dan akselerasi produksi yang masif.