SURAKARTA — Kelompok mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berhasil menciptakan inovasi teknologi mutakhir untuk mengatasi persoalan limbah medis di Indonesia. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa skema Karsa Cipta (PKM-KC), mereka mengembangkan sebuah perangkat pintar bernama Needle Crusher Integrated System (NECIS), sebuah alat penghancur limbah jarum suntik terintegrasi yang berbasis teknologi Internet of Things (IoT).

Langkah inovatif ini lahir sebagai respon atas tingginya risiko kecelakaan kerja berupa tusukan jarum bekas (Needle Stick Injury/NSI) pada tenaga kesehatan. Ketergantungan rumah sakit dan klinik terhadap pihak ketiga dalam pengolahan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) kerap memicu penumpukan sampah medis berbahaya yang mengancam keselamatan di lingkungan fasilitas kesehatan.

Inovasi ini digagas oleh tim yang diketuai oleh Daffa Satria Nugraha, dengan anggota Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, Safaila Mefia Zahra, dan Evandra Ardhy Pratama. Di bawah bimbingan dosen Ir. Dedi Ary Prasetya, ST., M.Eng., proyek ini sukses memperoleh pendanaan riset dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui program PKM-KC.

Secara teknis, NECIS mengusung konsep point-of-care, yang memungkinkan pemusnahan limbah medis dilakukan secara instan di lokasi pelayanan tanpa perlu waktu tunggu distribusi. Alat ini mengintegrasikan mekanisme penghancuran mekanis menggunakan rotary shredder yang mampu mencacah jarum logam sekaligus tabung plastik dalam waktu singkat, hanya berkisar antara 8 hingga 10 detik saja.

Setelah proses pencacahan selesai, serpihan limbah disterilisasi menggunakan radiasi sinar UV-C untuk membunuh patogen berbahaya. Sistem kemudian melakukan pemilahan otomatis berbasis magnet (magnetic segregation) guna memisahkan partikel logam dan plastik ke wadah yang berbeda, mempermudah proses daur ulang yang ramah lingkungan.

Tidak hanya itu, sistem pemantauan berbasis IoT yang terhubung langsung ke dasbor digital memudahkan pihak manajemen rumah sakit memantau kapasitas tangki penampung secara real-time. Aspek keselamatan operasional juga diperhatikan lewat desain kedap udara (fully enclosed) guna menghindari penyebaran aerosol infeksius selama alat bekerja.

Melalui inovasi ini, tim pengembang berharap NECIS dapat segera melewati uji klinis dan diimplementasikan secara massal di berbagai pusat kesehatan tanah air. Kehadiran teknologi ini diharapkan mampu meminimalisasi rantai penyebaran penyakit akibat limbah medis sekaligus mewujudkan kemandirian pengelolaan sampah B3 di Indonesia.