Nama Albert Einstein telah lama menjadi sinonim dengan kecerdasan luar biasa. Kontribusinya dalam teori relativitas, efek fotolistrik, hingga prediksi gelombang gravitasi telah mengubah fundamental pemahaman manusia mengenai ruang dan waktu. Namun, di balik berbagai terobosan besar tersebut, sang fisikawan legendaris ini tidak luput dari kesalahan ilmiah yang jarang diketahui publik.
Menurut fisikawan teoretis dari University of Illinois Urbana Champaign, Nicolás Yunes, sejarah sains cenderung menonjolkan keberhasilan Einstein karena dampaknya yang masif terhadap dunia. Salah satu kekeliruan paling mencolok terjadi pada tahun 1916 saat Einstein mencoba merumuskan gelombang gravitasi secara matematis bersama koleganya, Nathan Rosen.
Dalam proses perhitungannya, Einstein sempat menyimpulkan bahwa gelombang gravitasi tidak nyata. Hal itu disebabkan oleh munculnya nilai singularitas yang tidak masuk akal dalam persamaan mereka. Karena keyakinan tersebut, ia sempat mengirimkan naskah yang menyatakan ketidakmungkinan eksistensi gelombang gravitasi ke jurnal Physical Review.
Kondisi memanas ketika peninjau anonim dalam proses peer-review jurnal tersebut menemukan kesalahan fatal dalam perhitungan Einstein. Sang fisikawan sempat bereaksi keras terhadap kritik tersebut. Namun, terbukti bahwa kesalahan itu hanyalah masalah penggunaan sistem koordinat yang kurang tepat, serupa dengan ilusi optik pada garis bujur di kutub bumi.
Setelah asistennya menjelaskan letak kekeliruan tersebut, Einstein akhirnya menyadari bahwa gelombang gravitasi—yang kini menjadi pilar penting dalam astrofisika modern—memang benar adanya. Kisah ini menjadi pengingat berharga bahwa bahkan sosok genius sekalipun tetap memerlukan proses validasi dan keterbukaan pikiran dalam mengejar kebenaran ilmiah.