JAKARTA — Di tengah pergerakan aktif saham-saham berkapitalisasi besar di Bursa Efek Indonesia (BEI), masih ada sejumlah emiten yang nyaris luput dari perhatian pelaku pasar. Saham-saham tersebut kerap disebut sebagai saham zombie karena harganya bergerak terbatas atau bahkan stagnan dalam waktu panjang, meski perusahaan di baliknya masih beroperasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kinerja laba semata tidak selalu menjadi alasan kuat bagi investor untuk kembali masuk ke suatu saham. Pasar umumnya menilai lebih jauh kualitas laba, arah bisnis, prospek pertumbuhan, hingga tata kelola perusahaan sebelum memberikan apresiasi melalui kenaikan harga.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa investor semakin selektif dalam membaca laporan keuangan emiten. Menurut dia, kenaikan laba yang tidak bersumber dari ekspansi pendapatan utama sering kali belum cukup untuk mengubah persepsi pasar.
Apabila laba bersih meningkat terutama karena efisiensi biaya, pendapatan non-operasional, atau pembalikan cadangan kerugian, pelaku pasar cenderung menahan diri. Kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan pertumbuhan bisnis yang benar-benar kuat dan berkelanjutan.
Dengan kata lain, emiten yang membukukan laba tetap bisa kehilangan daya tarik apabila tidak memiliki cerita pertumbuhan yang meyakinkan. Investor biasanya mencari katalis yang jelas, seperti peningkatan penjualan inti, ekspansi usaha, perubahan model bisnis, aksi korporasi, atau kebijakan baru yang dapat memperbaiki prospek perusahaan.
Selain faktor fundamental, aspek tata kelola juga menjadi perhatian penting. Saham yang dinilai minim transparansi, kurang aktif menyampaikan perkembangan bisnis, atau tidak memiliki strategi komunikasi yang kuat kepada publik berisiko semakin terpinggirkan dari radar investor.
Di pasar modal, persepsi memiliki peran besar. Emiten dengan laba positif tetapi tanpa arah pertumbuhan yang jelas dapat dipandang kurang menarik dibanding perusahaan lain yang memiliki prospek ekspansi lebih terbuka, meski kinerja keuangannya belum sepenuhnya optimal.
Untuk keluar dari kategori saham zombie, emiten membutuhkan pemicu yang mampu mengubah ekspektasi pasar. Katalis tersebut dapat berasal dari perbaikan kinerja operasional, restrukturisasi bisnis, masuknya investor strategis, peningkatan likuiditas saham, atau kebijakan industri yang memberi ruang pertumbuhan baru.
Bagi investor ritel, fenomena ini menjadi pengingat bahwa keputusan investasi tidak cukup hanya bertumpu pada angka laba bersih. Kualitas pendapatan, keberlanjutan bisnis, likuiditas saham, serta rekam jejak manajemen perlu diperiksa sebelum mengambil keputusan.