Saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) kembali menjadi perhatian pelaku pasar setelah mengalami tekanan cukup dalam. Di tengah sentimen pasar yang mulai membaik, terutama karena harga minyak global melandai dan nilai tukar rupiah menguat, emiten farmasi tersebut dinilai memiliki peluang pemulihan harga.

Sejak meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, harga saham KLBF tercatat telah melemah sekitar 31 persen hingga Selasa, 23 Juni. Koreksi tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan beban bahan baku, mengingat perseroan memiliki eksposur terhadap pergerakan harga minyak dan kurs rupiah terhadap dolar AS.

Namun, dari sisi fundamental, penurunan harga saham tersebut dinilai terlalu dalam dibandingkan potensi dampak yang mungkin terjadi terhadap kinerja keuangan perseroan. Dalam skenario bearish, kenaikan harga minyak dan pelemahan rupiah diperkirakan dapat menekan laba bersih Kalbe Farma 2026 sekitar 22 persen.

Estimasi tersebut menggambarkan perubahan proyeksi pertumbuhan laba bersih 2026 dari sebelumnya tumbuh sekitar 8 persen secara tahunan sesuai panduan manajemen, menjadi turun 14 persen secara tahunan. Meski demikian, tekanan tersebut masih lebih rendah dibandingkan koreksi harga saham yang sudah terjadi di pasar.

Selain itu, harga minyak dan nilai tukar rupiah mulai menunjukkan tanda-tanda pembalikan arah. Kondisi ini membuka peluang bahwa dampak terhadap laba bersih KLBF pada 2026 dapat lebih ringan dibandingkan skenario terburuk. Dalam skenario dasar, laba bersih Kalbe Farma pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran Rp3,45 triliun.

Pergerakan historis nilai tukar dolar AS terhadap rupiah juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Sejak 2016, perubahan signifikan pada kurs USD/IDR tercatat memiliki hubungan berlawanan dengan pergerakan saham KLBF. Dari 10 periode ketika kurs bergerak besar, delapan di antaranya diikuti pergerakan signifikan saham KLBF ke arah sebaliknya.

Dengan pola tersebut, penguatan rupiah berpotensi menjadi katalis positif bagi saham KLBF. Ketika rupiah melemah tajam, saham KLBF cenderung tertekan, sementara saat rupiah menguat, peluang pemulihan harga saham menjadi lebih terbuka.

Berdasarkan proyeksi laba bersih 2026 sebesar Rp3,45 triliun atau setara estimasi laba per saham sekitar Rp76, saham KLBF diperdagangkan pada valuasi sekitar 10 kali price to earnings ratio (P/E) per Selasa, 23 Juni. Posisi ini berada sekitar 2,5 standar deviasi di bawah rata-rata historis lima tahun.

Apabila valuasi KLBF pulih secara konservatif ke kisaran 12,1 kali P/E, atau sekitar minus 2 standar deviasi dari rata-rata historis, harga wajar saham tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar Rp920 per saham. Angka ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 21 persen dari harga penutupan pada 23 Juni.

Meski demikian, sejumlah risiko tetap perlu dicermati investor. Risiko utama mencakup kemungkinan kembali naiknya harga minyak apabila tensi geopolitik memburuk, termasuk jika kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran gagal tercapai. Selain itu, rupiah juga berisiko kembali melemah jika bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, mengambil sikap kebijakan moneter yang lebih agresif.

Di tengah tekanan jangka pendek tersebut, sebagian pelaku pasar menilai saham dengan prospek bisnis struktural tetap menarik untuk dicermati. Namun, keputusan investasi tetap perlu mempertimbangkan profil risiko, horizon investasi, serta perkembangan terbaru dari faktor makroekonomi dan kinerja perseroan.