Musibah banjir bandang dahsyat menerjang kawasan perbatasan antara Nepal dan Tibet, merenggut ratusan korban jiwa dan menyebabkan ribuan lainnya hilang. Berdasarkan laporan terkini, otoritas Nepal mencatat sedikitnya 469 orang tewas, sementara sekitar 910 orang—termasuk ratusan wisatawan asing—masih dalam pencarian. Di wilayah Gyirong, China, dilaporkan pula sebanyak 558 orang belum ditemukan, memperpanjang daftar korban akibat bencana ini.

Spekulasi awal mengenai penyebab bencana sempat mengarah pada aktivitas seismik berupa gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,4. Namun, analisis dari Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) dan Departemen Hidrologi Nepal menunjukkan fakta berbeda. Bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser raksasa di lereng gunung wilayah Tibet yang meluncur deras membawa material batuan dan sedimen ke arah hilir.

Para ahli menduga longsoran es tersebut sempat menyumbat aliran Sungai Lhende dan membentuk bendungan alami. Penumpukan debit air yang terus meningkat akhirnya menjebol sumbatan tersebut, hingga melepaskan gelombang air bah yang sangat destruktif. Meski demikian, beberapa pakar mengingatkan perlunya kajian lebih lanjut untuk memastikan apakah banjir terjadi akibat jebolnya bendungan alami atau langsung dipicu oleh hantaman material longsoran es.

Fenomena mematikan ini dinilai erat kaitannya dengan dampak perubahan iklim global. Pemanasan suhu bumi memicu pencairan permafrost—lapisan tanah beku yang menjaga kestabilan lereng gunung—sehingga membuat kawasan dataran tinggi menjadi sangat labil. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan Nepal telah kehilangan hampir sepertiga volume esnya dalam tiga dekade terakhir, mempertegas ancaman nyata dari krisis iklim.

Wilayah perbatasan Nepal dan China memang dikenal sangat rentan terhadap bencana alam akibat topografi ekstremnya yang terdiri dari puncak-puncak tertinggi di dunia dan lembah-lembah curam. Saat musim monsun tiba, curah hujan tinggi memicu ketidakstabilan lereng, yang berujung pada bencana berantai mulai dari longsor, runtuhnya gletser, hingga banjir bandang di kawasan hilir yang dihuni penduduk.

Untuk menekan risiko di masa depan, para peneliti menekankan pentingnya modernisasi sistem peringatan dini dan relokasi permukiman yang berada di zona bahaya bantaran sungai. Selain itu, kerja sama internasional dalam pertukaran informasi meteorologi lintas batas antara Nepal dan China dinilai mendesak untuk diperkuat agar mitigasi bencana dapat berjalan lebih efektif.