Adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor bisnis Indonesia kini telah mencapai angka 40 persen, menurut laporan terbaru dari Amazon Web Services (AWS) bertajuk "Unlocking Indonesia's AI Potential 2026". Temuan ini menandai babak baru bagi lanskap korporasi tanah air, di mana fokus utama kini bergeser dari sekadar uji coba teknologi menuju perluasan skala operasional, penguatan tata kelola, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia.
Riset tersebut mencatat adanya lonjakan signifikan pada produktivitas pekerja, di mana 75 persen pengguna AI melaporkan peningkatan efisiensi kerja, naik dari 68 persen pada tahun sebelumnya. Dampak komersialnya pun kian terasa nyata; sebanyak 72 persen pelaku usaha menyatakan AI mempercepat proses inovasi, sementara 62 persen lainnya mengaitkan adopsi teknologi ini dengan pertumbuhan pendapatan perusahaan.
Tren pemanfaatan teknologi ini juga mengarah pada penggunaan agentic AI, yakni kecerdasan buatan yang mampu beroperasi secara mandiri untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Mayoritas pengguna agentic AI (84 persen) melaporkan kenaikan produktivitas kerja yang signifikan. Salah satu contoh sukses penerapannya terlihat pada hibank, yang mengintegrasikan AI untuk mendeteksi penipuan, menganalisis kelayakan kredit (underwriting), dan menggunakan sistem Kiro untuk mempercepat proses penutupan harian hingga 30 persen sekaligus menghemat infrastruktur sebanyak 25 persen.
Di sektor asuransi, startup Rey berhasil memanfaatkan platform Olvo AI berbasis Amazon Bedrock untuk memangkas durasi pemrosesan klaim secara drastis, dari yang semula membutuhkan waktu satu hingga dua minggu menjadi kurang dari satu hari saja. Kemampuan memproses lebih dari 7.000 klaim harian untuk setengah juta anggota ini didukung oleh infrastruktur lokal Region AWS Asia Pasifik Jakarta yang telah hadir sejak September 2025.
Pertumbuhan paling agresif ditunjukkan oleh perusahaan rintisan (startup) berbasis AI-native. Laporan AWS mengungkapkan bahwa kelompok startup ini mencatat rata-rata pertumbuhan pendapatan tahunan hingga 142 persen, jauh mengungguli startup konvensional yang rata-rata tumbuh sebesar 60 persen. Selain itu, startup AI-native memiliki peluang hampir lima kali lebih besar untuk meraih pendapatan tahunan di atas 1 juta dolar AS.
Meskipun demikian, tingkat kematangan adopsi AI di Indonesia masih cukup bervariasi. Saat ini, 56 persen perusahaan masih berada dalam fase penjajakan dan eksperimen, sedangkan baru 12 persen yang telah mengintegrasikan AI secara penuh ke dalam strategi bisnis inti mereka. Tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha saat ini adalah minimnya strategi formal (hanya dimiliki oleh 24 persen perusahaan), kurangnya tata kelola data yang memadai, serta kesulitan dalam mengukur laba atas investasi (ROI) secara akurat.
Kendala lain yang perlu diatasi adalah kesenjangan keahlian digital, di mana 56 persen organisasi mengaku kesulitan menemukan talenta yang menguasai AI. Guna menjawab tantangan tersebut, AWS berkomitmen menanamkan investasi jangka panjang senilai 5 miliar dolar AS serta meluncurkan program pelatihan gratis berbahasa Indonesia seperti "IndonesiapandAI" dan "MAIN" pada tahun 2026, memperkuat kontribusi mereka yang telah melatih lebih dari 1,3 juta talenta digital di tanah air.