Mendapatkan gelar sarjana tidak selalu menjadi jaminan kemudahan dalam meniti karier di dunia profesional. Fenomena ini dirasakan langsung oleh Sefi (27), seorang lulusan sarjana (S1) jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota dari salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Setelah menghadapi masa menganggur yang cukup lama pascakelulusan, ia akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah berani dengan merintis usaha jasa cuci sepatu.
Sefi mengungkapkan bahwa keputusannya berwirausaha dipicu oleh sulitnya menemukan lowongan kerja yang relevan dengan bidang studinya. Meski telah berupaya melamar ke berbagai instansi, kendala seperti minimnya pengalaman kerja kerap menjadi penghalang. Sebelum membuka bisnis sendiri, ia bahkan sempat menyambung hidup dengan bekerja sebagai pramusaji hingga pengemudi ojek daring guna mengatasi rasa canggung sosial dan tuntutan ekonomi keluarga.
Kondisi yang dialami Sefi merefleksikan potret ketenagakerjaan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY per Mei 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah ini berada di angka 3,11 persen, mengalami kenaikan tipis dibandingkan periode Februari 2026 yang sebesar 3,05 persen. Menariknya, dari total 2,20 juta penduduk yang bekerja, hanya sekitar 47,59 persen yang terserap di sektor formal, sementara sisanya mengandalkan sektor informal seperti wirausaha mandiri.
Bisnis cuci sepatu yang dijalankan Sefi kini menjadi sumber pendapatan utama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Walau skala usahanya masih tergolong kecil dan dikelola secara mandiri, aktivitas ini memberikan produktivitas dan kepastian finansial yang ia butuhkan. Bagi Sefi, gelar akademisnya tidak dianggap sia-sia, melainkan realitas pasar kerja saat ini yang menuntutnya untuk berpikir realistis dan lebih fleksibel.
Meski masih memiliki harapan untuk berkarier di bidang tata kota jika kesempatan itu datang, Sefi kini fokus mengembangkan usaha jasanya. Ia optimistis bisnis kecil ini dapat bertumbuh pesat dan mampu menyerap tenaga kerja baru di masa depan. Perjalanan Sefi membuktikan bahwa ketika pintu kerja formal belum terbuka, keberanian dan kemandirian berwirausaha dapat menjadi jalan keluar yang produktif.