Fenomena astronomis langka, Rashdul Qiblat atau Istiwa A'dham, diproyeksikan akan terjadi pada Rabu dan Kamis, 15–16 Juli 2026. Peristiwa alam ini menjadi momentum emas bagi umat Muslim di berbagai wilayah Indonesia untuk memverifikasi dan menyelaraskan kembali akurasi arah kiblat salat secara mandiri dan presisi dengan memanfaatkan sinar matahari.

Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH Sirril Wafa, menjelaskan bahwa Rashdul Qiblat merupakan fenomena ketika posisi matahari berada tepat di atas titik zenith Ka'bah di Kota Makkah, Arab Saudi. Akibatnya, semua benda yang berdiri tegak lurus di Makkah akan kehilangan bayang-bayangnya. Sebaliknya, bayangan benda tegak di belahan dunia lain yang terpapar cahaya matahari akan mengarah langsung ke posisi Ka'bah.

Secara sains, peristiwa ini dipicu oleh gerak semu tahunan matahari akibat kombinasi perputaran bumi mengelilingi matahari dan kemiringan sumbu rotasi bumi. Pergerakan periodik ini membuat posisi deklinasi matahari berada di garis lintang yang sama dengan Ka'bah, yakni 21º 25’ Lintang Utara, sehingga terjadi kulminasi tepat di atas tempat suci tersebut.

Peristiwa penting ini dijadwalkan berlangsung dalam dua hari berturut-turut. Pada Rabu, 15 Juli 2026, fenomena ini terjadi pukul 16:26:42 WIB atau 17:26:42 WITA. Sementara keesokan harinya, Kamis, 16 Juli 2026, peristiwa tersebut akan berulang pada pukul 16:26:48 WIB atau 17:26:48 WITA. Untuk kemudahan praktis, warga dapat membulatkan waktu pengukuran pada pukul 16:27 WIB atau 17:27 WITA dengan menggunakan jam yang telah terkalibrasi.

Hampir seluruh wilayah Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk mengukur arah kiblat secara akurat, terkecuali wilayah Maluku, Maluku Utara, dan Papua karena matahari sudah terbenam di kawasan tersebut. Masyarakat cukup menyiapkan tiang tegak lurus atau tali berbandul sebagai acuan, lalu menandai garis bayangan yang dihasilkan matahari pada jam yang telah ditentukan.