Warna favorit kerap dianggap sebagai pilihan sederhana dalam keseharian. Namun, dalam kajian psikologi warna, preferensi terhadap warna tertentu dapat memberi gambaran tentang kecenderungan karakter dan cara seseorang berinteraksi dengan lingkungannya.
Psikolog warna Michelle Lewis menjelaskan, orang yang menyukai warna oranye umumnya memiliki kesan hangat, terbuka, dan mudah membangun kedekatan sosial. Mereka juga disebut mampu menciptakan suasana nyaman bagi orang-orang di sekitarnya.
Menurut Lewis, oranye merupakan warna yang identik dengan kehangatan, kebersamaan, serta rasa memiliki. Warna ini memberi energi yang hidup, tetapi tidak terasa menekan atau agresif.
“Oranye adalah warna yang membawa kehangatan secara fisik maupun emosional. Warna ini meriah tanpa terasa formal, dan memberi energi tanpa terlihat agresif,” ujar Lewis, sebagaimana dilansir Parade, Minggu (28/6/2026).
Lewis, yang juga dikenal sebagai pakar psikologi warna serta pendiri ColorAnalysis.com dan The Color Institute, menerangkan bahwa oranye berada di antara karakter merah dan kuning. Warna ini membawa unsur energi dari merah, tetapi tidak seintens merah, serta memuat kehangatan kuning tanpa kesan terlalu mencolok.
Karena perpaduan tersebut, oranye kerap dikaitkan dengan sikap sosial, rasa nyaman, optimisme, dan kemampuan menjaga keterhubungan dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, penyuka warna ini sering dipersepsikan sebagai pribadi yang ramah dan mudah diterima di berbagai lingkungan.
Sejumlah temuan ilmiah juga menunjukkan warna oranye dapat berkaitan dengan respons kognitif. Penelitian dari University of Liège menemukan bahwa paparan cahaya oranye memunculkan aktivitas lebih tinggi pada area otak yang berperan dalam kewaspadaan dan fungsi kognitif dibandingkan beberapa kondisi lain yang diuji.
Lewis menilai, energi yang diasosiasikan dengan warna oranye membuat para penyukanya cenderung mampu menjaga hubungan sosial secara alami. Mereka tidak selalu perlu tampil dominan, tetapi kehadirannya kerap memberi rasa diterima bagi orang lain.
“Mereka membuat orang lain merasa nyaman dan dihargai tanpa harus berusaha keras,” kata Lewis.
Dalam lingkaran pertemanan, penyuka warna oranye juga sering menjadi sosok yang menghidupkan suasana. Lewis menyebut mereka dapat berperan seperti tuan rumah tidak resmi, yakni orang yang membantu mencairkan interaksi dan membuat kelompok terasa lebih akrab.
Meski demikian, psikologi warna tidak dimaksudkan untuk memberi label mutlak terhadap kepribadian seseorang. Preferensi warna hanya menjadi salah satu petunjuk yang dapat dipengaruhi pengalaman pribadi, budaya, suasana hati, hingga konteks sosial seseorang.