Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menyita perhatian dunia internasional. Sebelum dikebumikan di kota kelahirannya, Mashad, jenazah mendiang akan terlebih dahulu dibawa ke Irak pada Rabu (8/7) untuk menjalani serangkaian prosesi penghormatan terakhir.
Keputusan membawa jenazah melintasi perbatasan menuju Najaf dan Karbala bukan tanpa alasan fundamental. Bagi komunitas Syiah, kedua kota tersebut memiliki kedudukan yang sangat suci dan krusial dalam sejarah spiritual mereka. Kehadiran jenazah Khamenei di wilayah tersebut menjadi simbol penghormatan yang mendalam dari para pemimpin serta masyarakat setempat.
Kota Najaf dikenal luas sebagai pusat spiritual utama dalam Islam Syiah, yang menjadi lokasi makam Ali bin Abi Thalib, tokoh yang paling dihormati dalam tradisi tersebut. Tradisi membawa jenazah ke tempat ini sering dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sosok yang dianggap memiliki kedekatan spiritual dengan tokoh-tokoh suci Islam.
Sementara itu, kota Karbala memiliki signifikansi historis sebagai lokasi gugurnya Imam Husain bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa tragis Perang Karbala pada tahun 680 M. Setiap tahunnya, jutaan peziarah memadati kota ini untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan Imam Husain, menjadikannya salah satu titik ziarah paling sakral di dunia.
Secara logistik, perjalanan dari Teheran menuju Najaf dan Karbala menempuh jarak ratusan kilometer. Namun, jarak fisik tersebut dianggap tidak berarti bagi para pengikutnya dibandingkan dengan bobot simbolis dari kunjungan terakhir ini sebelum sang pemimpin disemayamkan secara permanen di Mashad.