Implementasi kebijakan biodiesel 50 persen atau B50 dalam sektor pertambangan kini memicu diskursus teknis terkait efektivitasnya. Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) menyoroti potensi penurunan produktivitas mesin akibat karakteristik kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang terkandung dalam bahan bakar tersebut.

Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy Hartono, mengungkapkan bahwa berdasarkan evaluasi pada penerapan biodiesel sebelumnya, penggunaan campuran nabati yang tinggi berdampak langsung pada beban biaya perawatan sekaligus penurunan performa alat berat. Menurutnya, energi yang dihasilkan biodiesel tidak seoptimal bahan bakar solar murni, sehingga memengaruhi tenaga mesin secara signifikan.

Terdapat beberapa kendala teknis utama yang diidentifikasi, yakni sifat higroskopis pada FAME yang cenderung lebih mudah mengikat kelembapan air. Hal ini memicu risiko korosi pada ruang bakar dan mendukung pertumbuhan mikroba yang dapat mendegradasi kualitas bahan bakar. Selain itu, sifat biodiesel sebagai pelarut kuat berpotensi meluruhkan endapan di tangki, yang berisiko menyumbat filter bahan bakar serta merusak sistem injeksi.

Sebagai solusi alternatif, Perhapi merekomendasikan pemerintah untuk mempertimbangkan penggunaan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) sebagai pengganti FAME. Sudirman menjelaskan bahwa HVO diproses melalui hidrogenasi untuk menghasilkan hidrokarbon murni yang karakternya setara dengan solar fosil.

Meskipun biaya produksi HVO saat ini dinilai lebih tinggi, penggunaannya dianggap jauh lebih aman bagi umur pakai mesin dan stabilitas performa alat berat di lapangan. HVO diketahui tidak memiliki sifat higroskopis seperti FAME, sehingga lebih tahan terhadap kontaminasi air dan oksidasi, yang menjadi keunggulan krusial untuk operasional pertambangan skala besar.