Politeknik Negeri Malang (Polinema) menginisiasi program pembelajaran lintas budaya bertajuk International Experience Learning and Cultural Immersion dengan menjadikan Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, sebagai laboratorium belajar bagi puluhan mahasiswa dari berbagai negara. Sebanyak 61 peserta, yang sekitar 90 persennya merupakan mahasiswa asing dari sembilan perguruan tinggi internasional, turut ambil bagian dalam program yang mengintegrasikan pengabdian masyarakat, riset, dan penerapan teknologi tepat guna ini.
Wakil Direktur I Bidang Akademik dan Kerja Sama Polinema, Prof. Ir. Ratih Indri Hapsari, ST., MT., Ph.D., IPM, menegaskan bahwa program ini merupakan wujud nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus implementasi hasil riset yang dikembangkan bersama mitra internasional. "Ini adalah bentuk pengabdian masyarakat dari Polinema bersama mitra Polinema, khususnya dari luar negeri, untuk memberikan hasil penelitian kepada masyarakat," jelasnya.
Sebelum terjun langsung ke lapangan, seluruh peserta terlebih dahulu dibekali dengan materi tentang energi terbarukan, penyediaan air bersih, serta teknik penghijauan. Mereka kemudian merakit perangkat teknologi di laboratorium kampus Polinema sebelum memasangnya di kawasan Wisata Sumberingin, Desa Wringinsongo. Pendekatan ini memadukan pembelajaran akademik di ruang kelas dengan praktik langsung di tengah masyarakat.
Tiga kelompok mahasiswa menghasilkan tiga proyek teknologi tepat guna yang langsung diaplikasikan di desa tersebut. Proyek pertama berupa pembuatan pot tanaman dari hasil daur ulang plastik yang ditanami beragam jenis tumbuhan menggunakan pupuk eco-enzyme guna mendukung program penghijauan. Proyek kedua adalah instalasi panel surya sebagai sumber energi terbarukan untuk mengoperasikan pompa pengairan kolam ikan, disertai pelepasan benih ikan demi mendorong pengembangan usaha perikanan warga setempat.
Sementara proyek ketiga berupa pemasangan pompa hidram atau Hydraulic Ram Pump, yakni sistem pompa yang memanfaatkan tekanan air secara alami tanpa memerlukan tenaga listrik. "Pompa ini bertujuan untuk mendistribusikan air ke berbagai titik di kawasan wisata ini," ungkap Prof. Ratih.
Lebih dari sekadar penerapan teknologi, program ini juga dirancang untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat pedesaan Indonesia kepada para mahasiswa asing. Prof. Ratih menekankan bahwa pembangunan tidak selalu harus bermula dari teknologi canggih atau negara maju, melainkan juga bisa bertolak dari desa melalui pemberdayaan ekonomi lokal yang berbasis potensi alam. "Meskipun mereka berasal dari perguruan tinggi terkemuka dan negara maju, apa yang kita pelajari harus mampu memberikan dampak bagi masyarakat, tidak hanya bagi industri," tegasnya.
Antusiasme para peserta asing terhadap program ini sangat tinggi. Gong YiLin, mahasiswa dari Shandong University of Science and Technology (SDUST), China, mengungkapkan kekagumannya terhadap keramahan masyarakat dan keindahan Kota Malang. "Semua orang sangat ramah, dan Malang adalah kota yang indah dengan pemandangan yang sangat berbeda dari China," tuturnya.
Hal serupa disampaikan Haziq, peserta dari Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM), yang merasa terkesan dengan budaya sopan santun masyarakat Indonesia. "Saya rasa budaya ramah orang Indonesia, bahkan hal sederhana seperti meminta permisi, sangat terasa. Hal itu membuat saya semakin termotivasi untuk terus memperbaiki diri," ujarnya. Rekannya, Alif, berharap kolaborasi antara UTHM dan Polinema dapat terus berlanjut di masa mendatang.
Perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam program ini antara lain Universiti Tun Hussein Onn Malaysia, King Mongkut's University of Technology dari Thailand, serta Shandong University of Science and Technology dari China. Melalui inisiatif ini, Polinema menargetkan terciptanya pengalaman akademik dan sosial yang bermakna bagi seluruh peserta, sekaligus menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat konkret bagi masyarakat desa.