Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Utara, Sulaiman Harahap, menyerukan kepada seluruh rumah sakit di wilayah Sumut agar terus meningkatkan standar pelayanan kesehatan melalui penguatan sinergi dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Seruan tersebut disampaikan dalam acara pembukaan Diskusi Nasional Peningkatan Mutu Rumah Sakit yang digelar di Hotel Grand Mercure, Medan, pada Jumat (26/6/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Sulaiman membacakan sambutan Gubernur Sumut Bobby Nasution dan menyampaikan apresiasi atas terpilihnya Sumatera Utara sebagai tuan rumah kegiatan berskala nasional ini. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan diskusi tersebut sejalan dengan tanggung jawab Pemerintah Provinsi Sumut dalam memperkokoh sistem pelayanan kesehatan yang berkualitas di daerah.

"Membangun pelayanan kesehatan masa depan merupakan tema yang sangat relevan dengan arah pembangunan kesehatan maupun visi pembangunan Sumatera Utara, yakni kolaborasi," ujar Sulaiman. Ia menekankan bahwa kolaborasi tidak boleh berhenti sebagai jargon semata, melainkan harus ditanamkan sebagai budaya kerja nyata dalam membangun layanan publik, khususnya di sektor kesehatan yang menjadi salah satu prioritas utama pembangunan provinsi.

Sulaiman menjelaskan bahwa transformasi pelayanan kesehatan hanya bisa diwujudkan apabila seluruh elemen bergerak secara kolektif. Mulai dari pemerintah, rumah sakit sebagai fasilitas kesehatan rujukan, organisasi profesi, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, hingga masyarakat sebagai penerima layanan harus bersatu padu dalam mendorong perubahan yang bermakna.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa Pemprov Sumut secara aktif menjalankan sejumlah program transformasi kesehatan. Salah satu di antaranya adalah Program Berobat Gratis (Probis) Sumut Berkah yang telah diluncurkan sejak Oktober 2025. Program tersebut dinilai mampu menjadi pendorong bagi seluruh fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit, untuk terus berbenah dan meningkatkan kualitas pelayanannya secara menyeluruh.

"Naik kelas bukan dari sisi sarana prasarana saja, melainkan juga peningkatan mutu pelayanan, penguatan budaya keselamatan pasien, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, serta inovasi layanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat," tegasnya. Menurut Sulaiman, indikator rumah sakit berkualitas tidak semata-mata diukur dari kelengkapan fasilitas, tetapi juga dari kemampuan memberikan pelayanan terbaik yang mampu meraih kepercayaan publik.

Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi sektor kesehatan, meliputi pemenuhan tenaga kesehatan yang kompeten, penguatan infrastruktur medis, adaptasi terhadap standar pelayanan terbaru, serta konsistensi dalam menjaga mutu layanan secara berkelanjutan. Seluruh tantangan tersebut, menurutnya, harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama seluruh pihak terkait.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Andi Wahyuningsih Attas, turut memberikan apresiasi terhadap komitmen Pemprov Sumut dalam mendukung peningkatan mutu rumah sakit. Ia menyatakan bahwa forum diskusi tersebut menjadi wadah strategis untuk merumuskan solusi bersama dan membangun komunikasi yang konstruktif dengan pihak rumah sakit.

Andi juga meluruskan persepsi mengenai peran surveyor dari lembaga akreditasi. Menurutnya, surveyor tidak hadir sebagai penguji, melainkan sebagai mitra yang memastikan pelayanan rumah sakit berjalan sesuai dengan ketentuan pemerintah serta mendorong terwujudnya layanan kesehatan yang prima bagi masyarakat.