Industri peternakan ayam petelur di Indonesia tengah dilanda krisis yang serius. Para peternak kini terhimpit dalam situasi sulit: harga jual telur ayam ras di tingkat produsen terus merosot tajam, sementara beban biaya pakan justru melambung tinggi. Kombinasi kedua faktor ini mengancam kelangsungan usaha di sejumlah sentra produksi peternakan.

Penurunan drastis harga telur ayam ras dipicu oleh membanjirnya pasokan di pasar domestik. Produksi yang melimpah tanpa diimbangi daya serap konsumen yang memadai membuat harga jual terus tertekan ke bawah. Akibatnya, peternak terpaksa melepas hasil produksinya dengan harga yang berada di bawah biaya pokok produksi (HPP).

Kondisi serupa juga dialami peternak ayam broiler atau ayam pedaging. Harga daging ayam turut mengalami kemerosotan, menambah daftar panjang keluhan pelaku usaha di sektor perunggasan. Margin keuntungan yang selama ini sudah tipis kini semakin tergerus, bahkan banyak peternak yang melaporkan kerugian signifikan.

Di sisi lain, biaya operasional peternak terus membengkak. Pakan ternak, yang merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan ayam, mengalami kenaikan harga yang cukup substansial. Lonjakan harga pakan ini semakin memperlebar kesenjangan antara biaya produksi dan harga jual, sehingga memperparah tekanan finansial yang dihadapi peternak.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai langkah konkret yang akan diambil pemerintah untuk mengatasi permasalahan struktural di sektor peternakan. Para pelaku usaha mendesak adanya intervensi kebijakan yang mampu menstabilkan harga di tingkat peternak sekaligus mengendalikan biaya input produksi, khususnya harga bahan baku pakan ternak.

Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, tekanan ganda berupa anjloknya harga jual dan melonjaknya biaya produksi ini berpotensi mendorong semakin banyak peternak skala kecil dan menengah gulung tikar. Dampak lanjutannya dapat mengganggu rantai pasok pangan nasional dan mengancam ketersediaan protein hewani bagi masyarakat dalam jangka panjang.