Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Konsorsium Pelayanan Kesehatan Primer (PHC) bersinergi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Pemerintah Australia menggelar forum ilmiah nasional bertajuk Leimena Conference 2026 di Jakarta. Agenda ini berfokus pada akselerasi kebijakan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) demi memperkokoh peran Puskesmas sebagai garda terdepan kesehatan di penjuru tanah air.

Pertemuan ilmiah ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi dr. Johannes Leimena, tokoh perintis Puskesmas melalui gagasan Bandung Plan pada tahun 1951. Melalui konsep ILP yang sedang digalakkan saat ini, semangat promotif dan preventif peninggalan Leimena diterjemahkan ke dalam transformasi pelayanan kesehatan nasional yang lebih modern dan berkesinambungan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan bahwa arah reformasi Puskesmas kini bergeser dari penanganan penyakit (disease-based) menjadi pelayanan yang berpusat pada siklus hidup manusia (life cycle-based). Dengan perubahan paradigma ini, masyarakat dari berbagai kelompok usia—mulai dari balita, usia produktif, hingga lanjut usia—dapat mengakses layanan kesehatan terpadu yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.

Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria menekankan pentingnya kebijakan kesehatan berbasis sains dan riset untuk memecahkan persoalan di lapangan. Senada dengan hal tersebut, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Rod Brazier, mengingatkan bahwa esensi utama dari layanan primer bukan sekadar birokrasi, melainkan kesiapan para tenaga medis dan kader kesehatan dalam mengayomi masyarakat.

Konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini menarik antusiasme tinggi dengan masuknya 698 abstrak ilmiah dari berbagai wilayah, termasuk daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK). Dirjen Kesehatan Masyarakat, Maria Endang Sumiwi, berharap forum ini mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan nyata berdasarkan praktik terbaik di daerah untuk memperkuat pemerataan layanan kesehatan di Indonesia.