Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus memperluas jangkauan perannya di luar ranah keagamaan dan sosial dengan merambah ke sektor bisnis syariah serta diplomasi internasional. Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, mengungkapkan langkah ini merupakan bagian dari agenda strategis global yang dirancang sejak awal kepemimpinannya guna memperkuat posisi tawar organisasi di kancah dunia.

Sebagai wujud nyata dari upaya tersebut, PBNU baru-baru ini menjalin kemitraan strategis dengan Tiongkok dan India untuk meningkatkan kapasitas penanggulangan tanggap bencana. Selain itu, dalam kurun waktu dua bulan terakhir, PBNU juga telah menerima kunjungan resmi dari tiga delegasi asal Malaysia guna menjajaki berbagai peluang investasi potensial.

Di sektor ekonomi, organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini meluncurkan inisiatif bernama Syariah Global Services. Program ini menyediakan jasa kursus kepatuhan syariah (sharia compliance) bagi pelaku usaha internasional serta layanan sertifikasi halal. Jaringan klien dari unit bisnis baru ini bahkan telah menjangkau berbagai negara di Eropa dan Asia, termasuk Prancis, Rumania, Ceko, hingga Korea Selatan.

Kendati ekspansi bisnis ini terus berkembang pesat, pria yang akrab disapa Gus Yahya ini menegaskan bahwa PBNU tidak akan berubah menjadi organisasi yang berorientasi pada keuntungan semata. Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama dalam menyejahterakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan tetap berada di tangan pemerintah, bukan organisasi kemasyarakatan.