PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk terus memperkokoh lini bisnis agribisnisnya di tengah dinamika ekonomi global, perubahan iklim, serta fluktuasi harga bahan baku. Sebagai salah satu produsen protein hewani terintegrasi terbesar di tanah air, emiten berkode JPFA ini memilih fokus pada penguatan fondasi jangka panjang melalui efisiensi rantai pasok dan integrasi prinsip keberlanjutan.
Langkah strategis ini diwujudkan lewat diversifikasi produk protein mulai dari unggas, biota laut, hingga sapi potong, serta investasi pada lini hilir seperti rumah potong hewan dan produk olahan siap konsumsi. Direktur Corporate Affairs Japfa Comfeed Indonesia, Rachmat Indrajaya, menjelaskan bahwa model bisnis hulu-hilir yang terintegrasi ini dirancang agar perusahaan memiliki fleksibilitas tinggi dalam merespons ketidakpastian pasar.
Dari sisi pengelolaan keuangan, perusahaan menerapkan kebijakan belanja modal (capital expenditure) yang selektif dan fleksibel. Melalui filosofi operasional yang diistilahkan sebagai "membangun kapal kecil", Japfa dapat menunda alokasi anggaran non-esensial demi menjaga arus kas tetap sehat, terutama saat industri memasuki fase penurunan siklus.
Strategi pengelolaan modal ini terbukti efektif dengan penurunan rasio utang bersih terhadap ekuitas (Net Debt to Equity) yang signifikan dari 52,5 persen pada Maret 2025 menjadi 28,9 persen pada Maret 2026. Perbaikan struktur modal ini juga didorong oleh inovasi pembiayaan berkelanjutan, seperti penerbitan Sustainable-Linked Bond (SLB) dan Sustainable-Linked Loan (SLL) bernilai jutaan dolar AS yang menyertakan indikator sosial untuk perbaikan gizi anak di pedesaan.
Di sisi operasional dan kelestarian lingkungan, Japfa memelopori penggunaan metode ilmiah Life Cycle Assessment (LCA) di industri perunggasan nasional. Kajian ilmiah ini menjadi basis terukur bagi investor dalam menilai komitmen lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan. Selain itu, Japfa menargetkan pemotongan emisi cakupan 1 sebesar 25 persen per kilogram ayam hidup pada tahun 2030 mendatang.
Pengurangan emisi tersebut diupayakan melalui efisiensi energi yang nyata, seperti optimalisasi panel surya, penggunaan biomassa, serta digitalisasi pemantauan ESG melalui Japfa Sustainability Reporting System. Langkah ini juga diperkuat dengan riset kesehatan hewan mandiri melalui unit Vaksindo serta kontribusi riset bersama Program Lingkungan PBB (UNEP) untuk menyusun pedoman global bagi kesejahteraan peternak plasma.