Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkomitmen memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang Indonesia melalui akselerasi riset di bidang teknologi strategis. Fokus pengembangan ini mencakup sektor-sektor mutakhir seperti kecerdasan artifisial (AI), teknologi semikonduktor, genomik, kuantum, hingga teknologi nuklir dan antariksa untuk memastikan kemandirian bangsa di masa depan.

Kepala BRIN, Arif Satria, menjelaskan bahwa kapasitas inovasi suatu negara berkorelasi kuat dengan kesejahteraan ekonominya, sebagaimana tercermin dalam Global Innovation Index (GII). Negara-negara dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita tinggi, seperti Swiss, Amerika Serikat, dan Korea Selatan, konsisten mendominasi peringkat atas indeks tersebut karena keberhasilan mereka mengintegrasikan riset ke dalam pembangunan nasional.

Dalam jangka pendek dan menengah, BRIN memprioritaskan kemandirian rantai pasok teknologi lewat produksi semikonduktor lokal guna menekan ketergantungan pada cip impor. Selain itu, pemanfaatan AI mulai diimplementasikan dalam sektor riil, seperti pengembangan perangkat pintar bernama "Food Guard" untuk menjaga kualitas makanan pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah.

Tak hanya itu, pengembangan teknologi genomik diarahkan untuk memproduksi benih unggul serta obat-obatan secara mandiri, sementara teknologi kuantum disiapkan untuk sistem keamanan siber masa depan. Pada sektor energi, BRIN juga tengah merintis ekosistem nuklir dari hulu ke hilir—mulai dari pemurnian uranium hingga pengolahan limbah—agar Indonesia siap dan tidak sekadar menjadi konsumen teknologi saat era Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dimulai.