Upaya diversifikasi komoditas pertanian di Distrik Cu Lao Dung, Provinsi Soc Trang, kini menunjukkan perkembangan positif melalui integrasi teknologi cerdas. Transformasi lahan dari tanaman tebu ke budidaya anggrek kini didukung oleh sistem irigasi otomatis yang terukur, memberikan solusi bagi tantangan iklim di wilayah hilir yang sering mengalami musim kemarau panjang.
Sebelumnya, para pembudidaya anggrek lokal masih mengandalkan metode konvensional yang cenderung boros air, pupuk, serta memerlukan tenaga kerja intensif. Kualitas bunga yang dihasilkan pun seringkali tidak seragam. Menanggapi kendala tersebut, tim peneliti mengembangkan model budidaya berbasis Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan suhu dan kelembapan secara presisi melalui perangkat seluler.
Proyek ini fokus pada dua varietas unggulan, yaitu Dendrobium 'light' dan 'sun', yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta daya adaptasi baik terhadap kondisi ekologis lokal. Hasil pengujian pada model eksperimental seluas 250m² menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tanaman mencapai 96 persen. Pertumbuhan bibit pun terpantau optimal dengan standar kualitas yang memenuhi kebutuhan pasar komersial.
Secara finansial, penerapan teknologi ini terbukti mampu menekan biaya operasional bulanan hingga 25-30 persen dibandingkan metode manual, dengan efisiensi penggunaan air mencapai 35 persen. Meski memerlukan investasi awal, model ini diproyeksikan memberikan margin keuntungan 20-25 persen per tahun dengan masa pengembalian modal dalam kurun waktu 3 hingga 4 tahun.
Keberhasilan ini telah memicu antusiasme di kalangan anggota Koperasi Anggrek Cu Lao Dung untuk mengadopsi teknologi serupa di kebun pribadi mereka. Langkah ini diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas komoditas anggrek, tetapi juga menjadi model keberlanjutan pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim di masa depan.