Kisah dramatis datang dari perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Siti Amang (47), salah satu korban selamat dari musibah tenggelamnya Kapal Motor (KM) Nurul Salsa, membagikan perjuangan hidupnya setelah terombang-ambing selama tiga hari tiga malam di tengah laut lepas sebelah barat Pulau Polassi, Kecamatan Bontosikuyu.

Di tengah gempuran ombak setinggi dua meter dan tanpa pasokan makanan maupun air bersih, Siti berhasil bertahan hidup berkat perlindungan tanpa henti dari suaminya, Andi Samad. Karena Siti tidak memiliki kemampuan berenang, sang suami terus mendekap dan menjaganya dari belakang agar tidak tergelincir dari pelampung gabus darurat yang mereka gunakan.

Siti mengungkapkan bahwa sesaat setelah kapal karam, mereka berdua langsung mencari benda apa pun yang bisa mengapung dan berhasil meraih selembar sterofoam atau pelampung gabus milik kapal. Awalnya, ada sembilan penumpang yang berkumpul di pelampung tersebut untuk bertahan hidup. Namun, kondisi ekstrem di laut perlahan-lahan merenggut nyawa sebagian dari mereka. Dari sembilan orang, hanya lima yang berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup, termasuk seorang anak berusia delapan tahun bernama Diska Yanti.

Selama masa-masa kritis tersebut, para korban harus menghadapi hawa dingin malam yang menusuk, sengatan matahari siang, serta rasa lapar yang luar biasa. Mereka bahkan sempat berusaha mencari sampah dedaunan atau benda hanyut lainnya yang bisa dimakan, namun nihil. Di tengah keputusasaan tersebut, Andi Samad terus memberikan kekuatan moral kepada istrinya dan penumpang lain agar tidak menyerah pada keadaan.

Salah satu momen paling memilukan yang disaksikan Siti adalah ketika Malida, ibu dari Diska Yanti, mengembuskan napas terakhirnya di dalam pelukan sang anak setelah fisiknya tidak lagi mampu menahan kerasnya kondisi laut. Meski dirundung duka dan kelelahan hebat, para penyintas terus berusaha melambaikan tangan setiap kali melihat sorot lampu kapal di kejauhan, meskipun suara teriakan mereka selalu kalah oleh deru angin dan deburan ombak.

Titik terang akhirnya datang pada Sabtu sore (18/7/2026), saat kapal nelayan Sinar Mattoangin 04 asal Bulukumba melintas dan menyadari keberadaan mereka. Setelah dievakuasi ke kapal nelayan, para penyintas kemudian dipindahkan ke kapal KN Gamajaya milik Basarnas untuk mendapatkan pertolongan pertama sebelum akhirnya dilarikan ke RSUD KH Hayyung Selayar guna menjalani perawatan intensif.

Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Didid Immawan, saat menjenguk para korban di rumah sakit menyampaikan rasa duka mendalam atas korban yang meninggal dunia. Pihaknya juga mengapresiasi ketabahan para penyintas serta mengimbau masyarakat untuk turut mendoakan keselamatan korban lain yang hingga kini masih dalam proses pencarian oleh Tim SAR gabungan.