Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memanas setelah Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Esmail Qaani, melontarkan peringatan keras yang ditujukan langsung kepada rezim Zionis. Pesan tersebut memicu reaksi yang dinilai penuh kekhawatiran dari Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, sebagaimana tercermin dalam unggahannya di platform media sosial X.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Mehr yang mengutip Al Jazeera pada Jumat (26/6/2026), Katz mengunggah respons berbahasa Persia yang menyebut pernyataan Qaani sebagai bentuk ancaman terhadap Israel. Dalam unggahan tersebut, Katz menegaskan bahwa serangan militer Iran terhadap Israel akan menjadi "kesalahan terbesar" yang pernah dilakukan Teheran. Ia juga mengklaim bahwa kendali atas Selat Hormuz tidak akan memberikan keuntungan strategis bagi Iran, serta menyatakan pasukan Israel dalam kondisi siap untuk menyelesaikan operasi yang tengah berjalan.

Namun, pengamat menilai nada defensif dan reaksi cepat Katz justru mengindikasikan adanya kegusaran di kalangan pejabat keamanan Israel terhadap bobot pesan yang disampaikan Jenderal Qaani. Alih-alih menunjukkan kepercayaan diri, respons tersebut dinilai mencerminkan tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh peringatan komandan militer senior Iran itu.

Dalam pernyataannya melalui akun media sosial, Brigadir Jenderal Qaani menyampaikan pesan yang sarat dengan simbolisme perjuangan keagamaan. Ia menyatakan bahwa pihak-pihak yang selama ini bertempur melawan Israel dilandasi semangat Asyura dan keimanan Husaini, seraya menegaskan prinsip "Kullu Yaumin Asyura wa Kullu Ardhin Karbala" — bahwa setiap hari adalah Asyura dan setiap tanah adalah Karbala.

Qaani juga menyerukan agar pasukan Zionis segera meninggalkan seluruh wilayah Lebanon. Menurutnya, negeri tersebut merupakan medan keteguhan dan perlawanan yang bukan tempat bagi kekuatan penjajah. Ia memperingatkan bahwa jika penarikan mundur tidak dilakukan secara sukarela, maka kelak mereka akan dipaksa melarikan diri dalam kondisi terhina dan terkalahkan.

Lebih jauh, komandan Pasukan Quds itu mengingatkan peristiwa bersejarah pada tahun 2000 ketika Israel terpaksa mundur dari Lebanon Selatan, serta merujuk pada wasiat mendiang Sayyid Hasan Nasrallah yang disampaikan di Bint Jbeil. Qaani menegaskan bahwa janji perlawanan tersebut masih hidup dan meyakini bahwa sejarah akan kembali berulang di medan yang sama.

Eskalasi retorika antara kedua pihak ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan Timur Tengah, di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks melibatkan berbagai aktor regional dan internasional.