Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) gencar mendorong penerapan teknologi pirolisis sebagai langkah strategis mengatasi persoalan sampah plastik bernilai rendah di Indonesia. Melalui metode ini, limbah plastik yang sulit didaur ulang secara konvensional dikonversi menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif yang bernilai ekonomi tinggi.

Berdasarkan data nasional, Indonesia menghasilkan sekitar 38 juta ton sampah, di mana hampir seperlimanya merupakan plastik bernilai rendah seperti styrofoam, kantong kresek, dan kemasan makanan sekali pakai. Peneliti Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa pirolisis menjadi solusi konkret untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir sekaligus menggerakkan roda ekonomi sirkular.

Salah satu wujud nyata dari pemanfaatan teknologi ini adalah "Petasol", bahan bakar minyak terbarukan setara solar hasil inovasi BRIN yang kini telah diterapkan di lebih dari 60 wilayah di Indonesia. Inovasi ini memiliki tingkat kesiapan teknologi yang matang dengan indeks kelayakan teknis mencapai 87 persen dan masa balik modal investasi yang relatif singkat, yakni sekitar 2,4 tahun.

Dari sisi kelestarian lingkungan, emisi yang dihasilkan oleh proses pirolisis ini terbukti aman karena berada di bawah ambang batas baku mutu pemerintah. Berdasarkan kajian penilaian daur hidup (Life Cycle Assessment), emisi karbon teknologi ini jauh lebih rendah dibandingkan metode pembakaran terbuka (open burning) maupun insinerasi konvensional.

Penerapan praktis teknologi ini juga mulai diadopsi oleh berbagai komunitas, seperti yang dilakukan Yayasan Get Plastic Indonesia di Sleman, Yogyakarta, yang mengolah 200 kilogram sampah plastik dari sebuah festival musik menjadi solar. Langkah akselerasi ini sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto yang menekankan penanganan darurat sampah secara berkelanjutan dan konsisten di seluruh penjuru tanah air.