Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan langkah strategis pemerintah untuk kembali menyuntikkan dana saldo anggaran lebih (SAL) ke himpunan bank milik negara (Himbara) dalam upaya menjaga stabilitas likuiditas sektor perbankan nasional. Pernyataan yang disampaikan pada Jumat (27/6) tersebut menandai perubahan arah kebijakan Kementerian Keuangan, setelah sebelumnya Direktur Jenderal Kementerian Keuangan Astera Primanto Bhakti menyebutkan pada Rabu (25/6) bahwa pihaknya justru tengah menarik dana SAL dari Himbara secara bertahap.
Berdasarkan rincian yang disampaikan, posisi dana SAL yang tersimpan di Himbara sebelumnya berada di kisaran Rp170 triliun. Angka tersebut kemudian dinaikkan menjadi Rp200 triliun untuk penempatan berjangka panjang. Pemerintah selanjutnya berencana menambahkan Rp100 triliun dengan tenor tiga hingga empat bulan, serta Rp100 triliun lagi melalui skema yang lebih fleksibel. Dengan seluruh tambahan ini, total penempatan SAL pemerintah di Himbara berpotensi menembus Rp400 triliun.
Injeksi likuiditas besar-besaran ini diharapkan mampu mendongkrak kinerja penyaluran kredit perbankan secara nasional. Kementerian Keuangan memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2026 dapat mencapai 14 hingga 15 persen secara tahunan (year-on-year). Tanpa dukungan tambahan likuiditas tersebut, menurut Purbaya, laju pertumbuhan kredit nasional berpotensi melambat ke bawah angka 11,51 persen yang tercatat pada Mei 2026, berdasarkan hasil diskusi intensif antara Kementerian Keuangan dan para pimpinan eksekutif Himbara.
Langkah pemerintah ini dinilai krusial di tengah tekanan likuiditas yang meningkat akibat kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin dalam satu bulan terakhir serta tingginya imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Kondisi ini diperparah oleh posisi rasio pinjaman terhadap simpanan (Loan-to-Deposit Ratio/LDR) Himbara yang sudah relatif tinggi per Mei 2026, seiring pesatnya pertumbuhan kredit hingga periode tersebut.
Dengan likuiditas yang lebih longgar, biaya pendanaan atau Cost of Fund (CoF) perbankan diperkirakan dapat lebih terkendali. Hal ini berpotensi menjaga margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) bank-bank BUMN di tengah tantangan untuk menaikkan suku bunga pinjaman pascakenaikan BI Rate, mengingat ketatnya persaingan di segmen korporasi serta belum optimalnya pertumbuhan di segmen konsumer dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pasar saham merespons positif kebijakan tersebut. Saham-saham Himbara kompak menguat pada perdagangan Jumat (27/6). Dari titik terendah hingga penutupan sesi, saham Bank Mandiri (BMRI) naik 2,3 persen, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menguat 2,1 persen, Bank Negara Indonesia (BBNI) terapresiasi 2,8 persen, dan Bank Tabungan Negara (BBTN) terdongkrak 1,8 persen. Penguatan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek likuiditas dan kinerja perbankan BUMN ke depan.