Kelompok Wanita Tani (KWT) Mandiri di Pekon Gadingrejo Utara, Kabupaten Pringsewu, kini tengah diarahkan untuk menjadi lebih mandiri dalam usaha budidaya jamur. Melalui program pengabdian masyarakat, tim dosen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) memberikan pendampingan intensif mengenai teknologi pembuatan baglog jamur sekaligus pemanfaatan limbahnya menjadi energi alternatif berupa biobriket.

Inisiatif bertajuk "Penerapan Teknologi Produksi Baglog dan Biobriket Limbah Jamur" ini didanai melalui Program Hibah BIMA Tahun 2026 dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Langkah ini dirancang untuk menciptakan ketahanan pangan tingkat lokal sekaligus menekan biaya produksi yang selama ini membebani para petani jamur setempat.

Ketua Tim Pengabdian Polinela, Yeni, menjelaskan bahwa kegiatan yang telah berjalan sejak akhir Mei 2026 ini melatih 18 anggota KWT. Mereka dibekali keahlian teknis secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku media tanam, sterilisasi, inokulasi bibit, hingga proses pembuatan briket dari sisa baglog yang sudah tidak produktif.

Hasil dari intervensi teknologi ini terbukti sangat signifikan. Pengetahuan anggota kelompok melonjak drastis dari yang sebelumnya hanya 5 persen menjadi 98 persen setelah masa pelatihan. Selain itu, kelompok tani ini juga telah sukses memproduksi sekitar 500 unit baglog jamur dan memproduksi beberapa kilogram biobriket siap pakai.

Ketua KWT Mandiri, Suprapti, mengungkapkan rasa syukurnya atas program ini karena kini mereka tidak lagi bergantung pada pasokan baglog luar daerah. Senada dengan hal itu, Kepala Pekon Gadingrejo Utara, Kirmanto, mengapresiasi kolaborasi akademisi dengan warga desa yang dinilai memberikan dampak nyata bagi perekonomian sirkular berbasis pedesaan.