Industri beras fortifikasi di Indonesia berada di ambang pertumbuhan baru, didorong oleh kebijakan pangan pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai intervensi gizi lainnya. Peluang ini tidak hanya terbatas pada pasar ritel modern, tetapi lebih strategis melalui integrasi ke dalam program-program bantuan pemerintah.

Penasihat Millers for Nutrition (M4N), Budianto Wijaya, menegaskan bahwa saluran distribusi melalui program bantuan pangan memiliki potensi pasar yang jauh lebih besar dibandingkan jalur komersial konvensional. Sebelumnya, beras fortifikasi lebih banyak dipasarkan sebagai produk premium untuk segmen menengah ke atas di jaringan supermarket, dengan pangsa pasar yang terbatas.

"Peluang bisnisnya di situ saat ini untuk beras fortifikasi," ujar Budianto dalam forum Millers for Nutrition di Jakarta, Rabu (24/6/2026). Ia menjelaskan bahwa manfaat kesehatan yang lebih luas akan tercapai jika produk ini menjadi bagian integral dari program intervensi pemerintah, seperti bantuan pangan, kesehatan ibu dan anak, hingga MBG. Diskusi pun telah dilakukan agar beras fortifikasi dapat masuk dalam program MBG, menyusul keberhasilan penggunaan garam dan minyak goreng terfortifikasi.

Namun, pengembangan industri ini menghadapi tantangan struktural, utamanya fragmentasi industri penggilingan padi nasional yang sangat tersebar dan beragam. Kondisi ini membuat penyelarasan regulasi dan standar mutu menjadi lebih kompleks dibandingkan komoditas pangan olahan lainnya. "Penggilingan padi di Indonesia sangat terfragmentasi sehingga penyelarasan regulasi dan standar mutu menjadi tantangan tersendiri," ungkapnya.

Meski demikian, prospek bisnis beras fortifikasi dinilai menarik karena menawarkan nilai tambah berupa kandungan mikronutrien seperti zat besi, zinc, asam folat, dan vitamin. Nilai tambah ini memungkinkan produsen memperoleh margin lebih baik sekaligus berkontribusi pada perbaikan gizi masyarakat. "Karena ada nilai tambahnya dari produknya, jadi bukan jualan rasa, tapi punya produk yang lebih sehat," kata Budianto.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keterjangkauan harga, karena beras khusus ini tidak diatur dalam batasan harga tertentu. Harga yang terlalu tinggi dapat menghambat perluasan konsumsi, terutama di kelompok sasaran program peningkatan gizi. Bertambahnya jumlah produsen diharapkan dapat menciptakan persaingan sehat yang menjaga harga tetap kompetitif.

Pelaku industri berharap adanya dukungan regulasi, perluasan penggunaan beras fortifikasi dalam program pemerintah, serta peningkatan partisipasi produsen dapat mempercepat pertumbuhan sektor ini. Langkah ini tidak hanya menciptakan peluang bisnis baru bagi penggilingan padi, tetapi juga mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi kekurangan mikronutrien dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.