Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, menyampaikan peringatan tegas mengenai ancaman serius yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang kian pesat. Peringatan ini disampaikan dengan latar belakang dampak luas AI yang mulai dirasakan di berbagai sektor kehidupan manusia.

Salah satu kekhawatiran utama yang diangkat oleh PBB adalah potensi besar AI untuk menggantikan peran manusia di tempat kerja. Hal ini terealisasi dalam bentuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang semakin sering terdengar, dengan alasan efisiensi melalui adopsi teknologi AI.

Meskipun diakui mampu mendorong pertumbuhan ekonomi lewat peningkatan produktivitas dan efisiensi, AI juga membawa sisi gelap yang mengkhawatirkan. Antara lain, peningkatan frekuensi dan kecanggihan serangan siber serta penipuan online yang dimudahkan oleh kemampuan AI.

Begitu pula dengan penyebaran disinformasi dan konten deepfake yang merusak integritas ruang digital dan memicu polarisasi di tengah masyarakat. Dampak lain yang tak kalah serius adalah kerusakan lingkungan, mengingat infrastruktur data center yang menjalankan AI membutuhkan konsumsi energi listrik dan air yang sangat besar, serta sering kali mengorbankan ruang hijau.

Menanggapi serangkaian masalah tersebut, PBB mendesak perusahaan-perusahaan teknologi raksasa yang mengembangkan AI untuk membuka lebih banyak transparansi. Permintaan spesifik ditujukan pada pengungkapan dampak lingkungan dari pembangunan data center, termasuk rincian mengenai penggunaan energi terbarukan dalam operasional infrastruktur tersebut.