Kelompok Perlawanan Islam Irak mengutuk keras serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi yang menyasar posisi pasukan Al-Hashd al-Shaabi serta pos pelayanan peziarah di kota suci Karbala. Agresi militer tersebut dilaporkan mengakibatkan puluhan orang gugur dan luka-luka di tengah persiapan peringatan keagamaan Arbain.

Dalam pernyataan resminya, kelompok perlawanan membantah tuduhan bahwa mereka berada di balik serangan yang sempat menyasar fasilitas minyak milik Arab Saudi. Mereka menuding Riyadh bertindak di bawah kendali Washington untuk memperlemah stabilitas dan kedaulatan nasional Irak.

Selain mengecam agresi asing, kelompok ini juga mengkritik sikap pemerintah Irak dalam menjaga integritas wilayah negara. Otoritas Baghdad ditantang untuk menunjukkan tindakan nyata dalam melindungi warga negaranya, menyusul desakan yang sebelumnya meminta kelompok pejuang lokal untuk melucuti senjata mereka.

Menyikapi situasi tersebut, Perlawanan Islam Irak memberikan tenggat waktu hingga 23 Safar bagi pemerintah untuk mengambil langkah defensif yang konkret. Mereka menegaskan bahwa aksi balasan militer terhadap pasukan AS dan target terkait di Arab Saudi pasti akan dilancarkan setelah seluruh rangkaian ibadah Arbain selesai demi menjamin keselamatan para peziarah.