Bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Indonesia sepanjang tahun 2026, memicu ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama kelompok usia anak-anak. Data Kementerian Kehutanan mencatat bahwa akumulasi luas lahan yang terbakar pada periode Januari hingga Juni 2026 telah menembus 107.465,47 hektare. Provinsi Kalimantan Barat menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas kebakaran mencapai 28.680,47 hektare, disusul oleh Riau, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua Selatan.
Situasi kian memburuk memasuki bulan Agustus, di mana Kementerian Kesehatan melaporkan lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi terpapar langsung oleh kabut asap pekat. Akibatnya, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak tajam. Di Kalimantan Barat saja, penderita ISPA tercatat mencapai 165.747 kasus sejak awal tahun, sementara Kalimantan Tengah turut melaporkan ribuan kasus serupa dalam waktu singkat.
Kelompok anak-anak menjadi korban yang paling rentan terhadap polutan berbahaya seperti PM2,5, karbon monoksida, dan nitrogen dioksida yang terkandung dalam asap karhutla. Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, menjelaskan bahwa sistem pernapasan dan fungsi kognitif anak yang masih dalam masa pertumbuhan membuat mereka sangat peka terhadap paparan udara kotor. Selain itu, aktivitas fisik anak yang tinggi dan kebiasaan bermain di luar ruangan memperbesar volume polutan yang masuk ke paru-paru mereka.
Dampak buruk dari paparan asap karhutla tidak boleh diremehkan. Sejumlah studi kesehatan menunjukkan bahwa paparan berulang pada anak dapat memicu gangguan kesehatan jangka panjang, mulai dari asma, penurunan fungsi kognitif otak, melemahnya sistem imun, hingga risiko penyakit kronis di masa depan. Pada bayi, polusi asap ekstrem bahkan dikaitkan dengan risiko berat badan lahir rendah dan gangguan tumbuh kembang.
Untuk menekan risiko tersebut, para orang tua dan pengasuh diimbau mengambil langkah preventif secara disiplin. Saat kualitas udara memburuk, anak-anak sebaiknya tetap berada di dalam rumah dengan pintu dan jendela yang tertutup rapat. Jika menggunakan pendingin ruangan (AC), atur agar udara luar tidak masuk ke dalam rumah. Penggunaan alat penyaring udara portabel berfilter HEPA juga sangat disarankan untuk menjaga kebersihan udara di dalam ruangan.
Orang tua juga wajib menyiapkan rencana tanggap darurat, termasuk menyediakan pasokan obat-obatan atau inhaler bagi anak yang memiliki riwayat asma. Jika anak mulai menunjukkan gejala fisik seperti sesak napas, batuk terus-menerus, nyeri dada, mata perih, atau pusing, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Langkah evakuasi mandiri harus segera dilakukan jika situasi kebakaran mendekati pemukiman atau kualitas udara telah masuk dalam kategori sangat berbahaya.