Dampak badai pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi global kembali melahirkan kisah humanis yang menarik perhatian publik. James Strawn, seorang veteran teknologi yang mengabdikan 25 tahun hidupnya di Adobe, kini memilih jalan hidup baru yang jauh dari layar komputer: menjadi sopir bus sekolah di Colorado, Amerika Serikat. Langkah ekstrem ini diambil Strawn setelah berjuang selama lebih dari setahun mencari pekerjaan baru di sektor teknologi tanpa hasil.
Sebelum beralih profesi kemudi, Strawn bukanlah sosok sembarangan. Ia menjabat sebagai Senior Software Quality Engineer di Adobe Digital Video, menguji perangkat lunak ternama seperti Premiere Pro, After Effects, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif yang sedang naik daun. Pengalamannya yang seperempat abad di bidang jaminan kualitas perangkat lunak sempat membuatnya yakin bisa dengan mudah mendapatkan pekerjaan baru setelah terkena PHK pada tahun 2025.
Kenyataan di lapangan ternyata jauh panggang dari api. Selama setahun penuh, Strawn mengirimkan ratusan lamaran untuk posisi rekayasa kualitas hingga pengujian AI. Alih-alih mendapatkan tawaran wawancara yang memuaskan, ia justru kerap menghadapi fenomena ghosting—ketika perekrut tidak memberikan kabar lanjutan—dan penolakan tanpa alasan jelas. Pengalaman ini membawanya pada dugaan bahwa diskriminasi usia (ageism) masih membayangi para pekerja senior di industri teknologi modern.
Jenuh dengan ketidakpastian, Strawn akhirnya memutuskan keluar dari zona nyaman. Ia melamar dan diterima menjadi sopir bus sekolah untuk distrik lokal di tempat tinggalnya. Bagi Strawn, pekerjaan mengantar anak-anak sekolah dengan aman menawarkan tanggung jawab yang berbeda namun tidak kalah mulia dibandingkan memastikan keandalan kode-kode pemrograman yang biasa ia lakukan dulu.
Meski pendapatannya turun drastis dibanding saat masih menjadi insinyur teknologi, Strawn mengaku sangat menikmati babak baru kehidupannya. Ia menemukan lingkungan kerja yang hangat, rekan-rekan yang membumi, dan keceriaan dari anak-anak yang diantarnya setiap hari. Melalui unggahan refleksinya di LinkedIn, ia menganalogikan transisi hidupnya sebagai perpindahan dari "mengemudikan komputer" menjadi mengemudikan bus fisik, sebuah perjalanan tak terduga yang kini ia jalani dengan penuh rasa syukur menjelang masa pensiunnya.