JAKARTA – POSCO International mencatat respons kuat dari pasar keuangan global setelah menerbitkan obligasi internasional perdananya senilai US$500 juta. Instrumen utang tersebut menarik pesanan hingga US$2 miliar, atau sekitar empat kali lipat dari nilai yang ditawarkan.
Pencapaian itu menjadi sinyal positif bagi perusahaan asal Korea Selatan tersebut dalam memperluas sumber pendanaan di pasar internasional. Investor menilai POSCO International memiliki portofolio bisnis yang cukup beragam, mulai dari energi, material, hingga pangan.
Obligasi berdenominasi dolar AS dengan tenor lima tahun itu diterbitkan pada 23 Juni 2026. Tingginya permintaan membuat perusahaan dapat menetapkan tingkat penerbitan lebih rendah dibandingkan indikasi awal, sehingga biaya pendanaan menjadi lebih kompetitif.
Keberhasilan transaksi ini juga dinilai mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek usaha POSCO International di tengah pasar global yang masih diliputi ketidakpastian, termasuk akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Sebelum penerbitan dilakukan, manajemen perusahaan menggelar rangkaian pertemuan dengan investor institusional di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia. Dalam forum tersebut, perusahaan memaparkan strategi bisnis yang bertumpu pada tiga sektor utama, yakni energi, material, dan pangan, serta posisinya sebagai salah satu unit penting dalam Grup POSCO.
Salah satu aspek yang turut menjadi perhatian investor adalah penguatan bisnis pangan dan energi. Di sektor energi, POSCO International terus memperluas rantai nilai LNG, antara lain melalui peningkatan kapasitas produksi Cenex Energy di Australia.
Sementara di sektor pangan, perusahaan mempercepat ekspansi global melalui investasi pada industri kelapa sawit di Indonesia. Bisnis tersebut dijalankan melalui anak usaha perkebunan sawit, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO), yang diposisikan sebagai salah satu penopang pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara.
Aset sawit di Indonesia dinilai memberi landasan penting bagi POSCO International untuk memperkuat pasokan bagi pasar global. Selain itu, sektor tersebut juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendapatan jangka panjang perusahaan.
Dari sisi sebaran geografis, investor Asia menjadi pembeli terbesar obligasi tersebut dengan porsi 67 persen. Investor Amerika Serikat menyusul dengan kontribusi 27 persen, sedangkan investor Eropa mencatat porsi 6 persen.
Berdasarkan jenis institusi, permintaan terbesar datang dari perusahaan manajemen aset dengan porsi 65 persen. Sektor perbankan menyumbang 33 persen, sementara sisanya berasal dari berbagai lembaga keuangan lain.
Keterlibatan investor Amerika Serikat dalam porsi yang cukup besar dianggap sebagai capaian penting, mengingat pasar AS merupakan salah satu pusat investasi obligasi terbesar di dunia. Hal ini memperlihatkan meningkatnya keyakinan investor internasional terhadap kondisi keuangan dan arah pertumbuhan POSCO International.
Dana yang diperoleh dari penerbitan obligasi tersebut akan digunakan untuk melunasi sebagian pinjaman valuta asing yang telah ada serta mendukung kebutuhan operasional perusahaan.
Dalam transaksi ini, BNP Paribas, Citi, Credit Agricole, HSBC, Mizuho, dan Korea Development Bank bertindak sebagai joint lead managers. Sementara itu, lembaga pemeringkat S&P memberikan peringkat BBB dan Moody’s memberikan peringkat Baa2, yang sama-sama berada pada kategori layak investasi.
Manajemen POSCO International menyatakan keberhasilan penerbitan obligasi global perdana tersebut menjadi bentuk pengakuan pasar terhadap daya saing dan prospek pertumbuhan perusahaan. Ke depan, perusahaan menargetkan perluasan basis investor global sekaligus memperkuat bisnis inti di sektor energi, material, dan pangan, termasuk pengembangan kelapa sawit di Indonesia.