Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menandai era baru bagi organisasi keagamaan tersebut. Mengusung konsep transformasi digital, panitia mengintegrasikan berbagai teknologi modern untuk mengawal keamanan serta mengoptimalkan kenyamanan ribuan peserta selama kegiatan berlangsung.
Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menjelaskan bahwa pihaknya telah memasang lebih dari 100 kamera pengawas (CCTV) di titik-titik krusial. Seluruh kamera tersebut terhubung langsung secara real-time ke ruang kendali terpusat (command center) guna memantau area persidangan, pemukiman peserta, dapur umum, hingga arus lalu lintas di sekitar lokasi acara.
Langkah digitalisasi ini tidak hanya berfokus pada pengawasan fisik, melainkan juga tata kelola administrasi. Gus Ipul menegaskan bahwa seluruh basis data delegasi telah diverifikasi dan dikunci rapat sebelum mereka tiba di Jombang. Sistem terintegrasi ini meminimalkan celah manipulasi pendaftaran, memastikan hanya peserta resmi yang memiliki akses masuk.
Sementara itu, Anggota Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 NU, Prof. Muh. Nuh, menjabarkan tiga pilar utama yang menyokong kesuksesan agenda akbar ini, yaitu kesiapan fisik, tata kelola (governance), dan pelayanan pendukung (supporting). Kolaborasi ketiga elemen ini diharapkan mampu menyajikan kenyamanan serta keramahan (hospitality) bagi para muktamirin.
Di bawah kendali tim IT, kartu identitas peserta kini dilengkapi dengan teknologi chip pintar. Menurut Prof. Muh. Nuh, penggunaan chip ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pengenal, tetapi juga pengendali akses zonasi. Sistem pemindai di pintu masuk secara otomatis mencocokkan fisik kartu dengan data foto pemilik demi mencegah penyalahgunaan kartu identitas oleh pihak yang tidak berwenang.
Keunikan lain dari muktamar pertama di abad kedua NU ini adalah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Perwakilan tim IT Muktamar, Mukorobin Ma’rufi, memaparkan bahwa AI difungsikan sebagai asisten virtual. Melalui pesan WhatsApp, peserta cukup mengirimkan foto kartu identitas mereka untuk mendapatkan informasi instan mengenai lokasi kamar menginap atau melaporkan kehilangan barang di lokasi kegiatan secara otomatis.
Kecepatan penanganan masalah di lapangan juga dipantau dengan indikator Service Level Agreement (SLA) yang ketat di Command Center. Mulai dari insiden medis hingga kendala fasilitas, sistem otomatis mendistribusikan tugas kepada petugas terdekat. Jika penanganan terlambat, lampu peringatan merah akan menyala di command center untuk segera ditindaklanjuti oleh koordinator sektor.