Masyarakat Asia Tenggara menaruh kepercayaan tinggi pada layanan keuangan digital seperti perbankan daring dan dompet digital. Namun, kepercayaan ini bersifat rapuh dan bersyarat. Studi terbaru bertajuk "Southeast Asia Consumer Tech Trust Score" mengungkapkan bahwa konsumen memiliki toleransi yang sangat rendah dan siap meninggalkan layanan tersebut begitu terjadi insiden fatal seperti kebocoran data atau gangguan sistem.
Riset kolaboratif yang diinisiasi oleh Vero bersama Kadence International ini melibatkan 3.000 responden di enam negara kawasan, termasuk Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Dalam temuan tersebut, perbankan daring memimpin tingkat kepercayaan dengan skor rata-rata 81,7, diikuti oleh pembayaran digital dengan skor 80,4. Kendati demikian, lebih dari separuh responden menegaskan komitmen mereka untuk langsung beralih ke penyedia jasa lain jika terjadi kegagalan sistem yang serius.
Menanggapi fenomena ini, Strategist Vero Indonesia, Fuad Arrasyid, menekankan pentingnya aspek transparansi dan akuntabilitas bagi perusahaan teknologi. Menurutnya, konsumen di Indonesia secara khusus menilai keandalan suatu platform berdasarkan rekam jejak yang nyata dan bagaimana perusahaan merespons sebuah krisis. Komunikasi yang jujur dinilai menjadi jembatan krusial untuk mempertahankan loyalitas pengguna di tengah pesatnya inovasi digital.
Kekhawatiran terbesar konsumen di Asia Tenggara berpusat pada isu keamanan data pribadi. Sebanyak 49,5 persen responden menempatkan penyalahgunaan data sebagai kecemasan utama mereka, disusul oleh ancaman penipuan siber. Khusus di Indonesia, reputasi nyata perusahaan jauh lebih dihargai dibanding kepatuhan formal terhadap regulasi pemerintah. Sekitar 43 persen responden lokal menyatakan bahwa rekam jejak yang bersih dan teruji menjadi indikator utama sebuah platform teknologi layak dipercaya.
Studi ini juga menemukan anomali menarik terkait hubungan antara frekuensi penggunaan dan tingkat kepercayaan. Media sosial, yang mencatat angka penggunaan harian tertinggi di Asia Tenggara, justru menempati posisi juru kunci dalam hal kepercayaan publik. Kondisi ini berbanding terbalik dengan sektor perbankan dan pembayaran digital yang berhasil mengawinkan tingkat penggunaan tinggi dengan reputasi keamanan yang kuat, meskipun dengan konsekuensi tuntutan performa tanpa celah.