Kerja sama pertahanan antara Indonesia dan India dalam pengadaan rudal jelajah supersonik BrahMos dinilai sebagai langkah krusial dalam upaya memodernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) tanah air. Inisiatif strategis ini diharapkan mampu mendongkrak kapabilitas pertahanan nasional sekaligus mempererat hubungan bilateral kedua negara.
Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzily, menegaskan bahwa India merupakan mitra yang tepat mengingat rekam jejak mereka yang mumpuni dalam mengembangkan teknologi rudal kelas dunia. Namun, ia menekankan bahwa fokus utama Indonesia dalam kemitraan ini bukan sekadar pemenuhan unit alutsista semata, melainkan esensi dari alih teknologi yang komprehensif.
"Kami berharap kerja sama ini menjadi sarana strategis bagi alih teknologi, selaras dengan komitmen yang telah disepakati oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi. Selain transfer teknologi, kolaborasi ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang pertahanan," ujar Ace di sela-sela Jakarta Geopolitical Forum X.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa rincian teknis maupun nilai kontrak pengadaan tidak dapat dipublikasikan. Kebijakan ini diambil demi menjaga kepentingan strategis, keamanan, dan kerahasiaan militer negara.
Kesepakatan pengadaan rudal BrahMos ini merupakan bagian dari 16 dokumen kerja sama yang diteken saat kunjungan kenegaraan PM Narendra Modi ke Jakarta. Selain BrahMos, terdapat pula perjanjian pengembangan sistem rudal udara-ke-udara antara Bharat Dynamics Limited dan Republikorp yang diproyeksikan untuk mendukung kebutuhan armada pesawat tempur Indonesia serta memperkuat keamanan maritim di wilayah pesisir strategis.