Sejak wahana antariksa Voyager 1 mengirimkan foto-foto perdananya pada tahun 1979, pandangan para astronom terhadap Io, salah satu bulan Jupiter, berubah drastis. Alih-alih menemukan benda langit yang dingin dan mati seperti Bulan kita, para ilmuwan justru disuguhi pemandangan dunia yang sangat aktif secara geologis dengan ratusan gunung berapi yang terus memuntahkan lava dan gas sulfur ke angkasa.
Penemuan bersejarah ini berawal dari kejelian Linda Morabito, seorang insinyur navigasi NASA. Saat memproses foto dari Voyager 1 untuk keperluan navigasi, ia melihat lengkungan cahaya misterius di tepi cakrawala Io. Setelah melalui analisis mendalam untuk menyingkirkan kemungkinan kerusakan kamera, fitur tersebut dikonfirmasi sebagai semburan (plume) vulkanik raksasa yang berasal dari gunung berapi Pele, menandai bukti pertama adanya aktivitas vulkanisme aktif di luar Bumi.
Berbeda dengan Bumi yang aktivitas vulkaniknya dipicu oleh peluruhan radioaktif internal, mesin penggerak Io bersumber dari gaya gravitasi ekstrem. Lintasan orbit Io yang sedikit elips, ditambah pengaruh gravitasi dari Jupiter serta bulan-bulan tetangganya seperti Europa dan Ganymede, menciptakan efek pasang-surut yang luar biasa besar. Proses "pemerasan" gravitasi ini secara konstan menaik-turunkan permukaan padat Io hingga setinggi 100 meter, menghasilkan gesekan internal hebat yang melelehkan batuan di dalamnya.
Panas ekstrem tersebut dilepaskan melalui sekitar 400 gunung api aktif yang menyelimuti Io. Karena gravitasi Io yang rendah dan atmosfernya yang sangat tipis, semburan vulkaniknya dapat membubung hingga ratusan kilometer ke angkasa. Pada tahun 2001, wahana Galileo mencatat material semburan terjauh mencapai ketinggian 500 kilometer—lebih tinggi dari orbit Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Aktivitas konstan ini menimbun kawah-kawah tumbukan meteoroid dengan lava baru secara cepat, membuat permukaannya selalu tampak "muda" dan dinamis secara geologis.
Penelitian mengenai Io terus berkembang seiring dengan pengumpulan data dari misi antariksa yang lebih modern. Data terbaru dari wahana Juno pada tahun 2024 menyanggah teori lama yang menyebutkan adanya samudra magma global di bawah kerak Io. Analisis gravitasi Juno menunjukkan bahwa pasokan magma di Io kemungkinan besar bersifat lokal dan regional, mengindikasikan struktur interior yang jauh lebih kompleks daripada yang diperkirakan sebelumnya.