Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat, khususnya kalangan pekerja, tidak menunda pemeriksaan kesehatan meski merasa tidak memiliki keluhan. Pesan itu disampaikan saat peluncuran Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) Polri dan kegiatan Bakti Kesehatan dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80 di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. III Lemdiklat Polri, Jakarta, Selasa (23/6).
Dalam kesempatan tersebut, Menkes menyoroti tingginya risiko penyakit tidak menular yang masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Penyakit seperti stroke, gangguan jantung, kanker, dan gagal ginjal, menurutnya, kerap berkembang tanpa gejala awal yang disadari masyarakat.
Budi menegaskan, deteksi dini menjadi kunci untuk menekan dampak penyakit-penyakit serius tersebut. Ia meminta masyarakat memanfaatkan program Cek Kesehatan Gratis yang digulirkan pemerintah agar potensi gangguan kesehatan dapat diketahui lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang menjadi kondisi berat.
“Penyakit seperti stroke, jantung, dan ginjal sebenarnya dapat dicegah apabila masyarakat rutin melakukan pemeriksaan kesehatan. Karena itu, program Cek Kesehatan Gratis dari Presiden Prabowo harus dimanfaatkan sebaik-baiknya,” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Menkes juga mengingatkan pentingnya memantau empat indikator kesehatan dasar, yakni tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, serta berat badan atau risiko obesitas. Keempat indikator tersebut dinilai menjadi penanda awal yang perlu diperhatikan untuk mencegah penyakit kronis.
Ia menjelaskan, tekanan darah ideal perlu dijaga di bawah 120/80 mmHg. Sementara itu, kadar gula darah dan kolesterol disarankan tidak melebihi 200 mg/dL. Selain pemeriksaan rutin, masyarakat juga diminta menjaga pola makan, mengatur berat badan, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.
“Kalau hasil pemeriksaan menunjukkan angka di atas normal, jangan dianggap enteng meskipun merasa sehat. Segera datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan yang sudah dibangun oleh Polri untuk mendapatkan penanganan,” tegasnya.
Pada acara yang sama, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menyampaikan bahwa Bakti Kesehatan Polri Tahun 2026 digelar serentak di berbagai wilayah Indonesia mulai 1 Juni hingga 1 Juli 2026. Program tersebut melibatkan sekitar 5.354 tenaga kesehatan.
Menurut Kapolri, lebih dari 664 ribu layanan kesehatan telah diberikan kepada masyarakat. Layanan itu mencakup pemeriksaan kesehatan gratis, pengobatan umum dan spesialis, operasi katarak, operasi bibir sumbing, donor darah, pemeriksaan laboratorium, skrining stunting, layanan kesehatan ibu dan anak, hingga pelayanan tuberkulosis.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Polri turut meluncurkan “Kartu Bhayangkara Prioritas Buruh”. Kartu ini disiapkan untuk mempermudah pekerja mengakses layanan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan melalui jaringan rumah sakit Polri di seluruh Indonesia.
“Kartu ini diharapkan dapat mempermudah rekan-rekan buruh untuk mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan di fasilitas kesehatan Polri di seluruh Indonesia,” kata Kapolri.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, menyampaikan apresiasi atas kerja sama Polri dan serikat pekerja dalam memperkuat layanan kesehatan bagi buruh. Ia menilai dukungan tersebut penting di tengah tekanan ekonomi global dan kekhawatiran terhadap pemutusan hubungan kerja.
Andi Gani menyebut program kesehatan bagi buruh sebagai langkah nyata yang dapat membantu pekerja beserta keluarganya. Ia berharap kolaborasi serupa terus diperluas agar akses layanan kesehatan preventif semakin mudah dijangkau.
Kegiatan Bakti Kesehatan Polri dan peluncuran CKG di FKTP Polri ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas layanan kesehatan promotif dan preventif. Melalui pemeriksaan dini, masyarakat diharapkan lebih cepat mengenali risiko penyakit dan mendapatkan penanganan yang tepat.