Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi dan modernitas yang menuntut rutinitas serba cepat di China, sebagian masyarakat memilih memperlambat tempo kehidupan demi menjaga kesehatan spiritual dan fisik. Di taman-taman kota seperti kawasan Kuil Surga di Beijing, pemandangan kelompok masyarakat yang memperagakan gerakan lambat nan anggun kini menjadi oasis ketenangan di tengah hiruk-pikuk metropolitan.
Salah satu praktisi, Ye Guirong (64), secara rutin memimpin komunitas Taici bernama Cypress Grove yang kini beranggotakan puluhan orang. Bagi Ye dan para pengikutnya, gerakan ikonik seperti "Burung Bangau Putih Merentangkan Sayap" bukan sekadar olah tubuh biasa, melainkan media untuk menyatu dengan alam dan menghirup udara segar demi mengimbangi tekanan hidup sehari-hari.
Secara filosofis, Taici memiliki makna ganda yang merujuk pada seni bela diri (taijiquan) dan konsep berpikir tradisional (taiji). Praktik kuno yang telah eksis selama lebih dari tiga abad ini sangat erat kaitannya dengan aliran qi atau energi vital tubuh. Dalam sistem pengobatan tradisional China, kelancaran sirkulasi qi melalui jalur meridian dipercaya menjadi kunci utama kesehatan organ dan kebugaran tubuh secara menyeluruh.
Meskipun awalnya dirancang sebagai teknik pertahanan diri militer dan latihan fisik bagi para biksu pada abad ke-17, orientasi Taici kini telah bergeser ke arah spiritual dan pemulihan kesehatan. Gaya Chen, yang diakui sebagai aliran tertua, diciptakan oleh seorang komandan militer bernama Chen Wangting setelah ia mendalami metode Taoisme untuk pencapaian pencerahan batin.
Para ahli menyebut gerakan teratur berirama lambat ini sebagai meditasi bergerak yang sangat efektif untuk meredakan stres dan meningkatkan fokus mental. Master Taici, Chen Haitao, menekankan bahwa kombinasi antara metode gerakan fisik dan pemahaman filosofis membuat olahraga ini sangat inklusif serta aman dipraktikkan oleh segala usia, mulai dari pemuda hingga lansia.