Kisah taman hiburan legendaris Mirapolis di Courdimanche, Val-d'Oise, Prancis, bersiap memasuki babak baru. Setelah lebih dari tiga dekade ditutup dan menyisakan kenangan sejarah, kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat hiburan modern berkat investasi besar dari Timur Tengah.
Digagas oleh arsitek Anne Fourcade pada awal 1980-an, Mirapolis awalnya dirancang sebagai taman bermain megah bertema dongeng dan legenda. Resmi dibuka pada Mei 1987 oleh Perdana Menteri Prancis saat itu, Jacques Chirac, taman ini mengandalkan patung raksasa Gargantua setinggi 35 meter sebagai ikon utamanya yang dapat dijelajahi pengunjung.
Namun, ambisi besar tersebut segera terbentur realitas pahit. Penolakan dari asosiasi pedagang karnaval lokal yang memprotes perbedaan pajak, serta rendahnya angka kunjungan yang hanya mencapai 400 ribu orang per tahun—jauh dari target semula sebesar dua juta pengunjung—membuat taman ini terus merugi. Setelah berganti-ganti manajemen, Mirapolis akhirnya resmi ditutup secara permanen pada Oktober 1991, tak lama sebelum Disneyland Paris dibuka.
Kini, angin segar berembus ke kawasan Cergy-Pontoise. Pada akhir Agustus 2026, pemerintah Prancis dan Arab Saudi menyepakati kerja sama strategis untuk membangun kompleks hiburan baru yang terdiri atas tiga taman bertema. Proyek ambisius ini didanai oleh Qiddiya Investment Company dengan nilai investasi fantastis mencapai 6 miliar euro dan diprediksi mampu menyerap sekitar 22.000 tenaga kerja baru.
Salah satu wahana yang direncanakan di dalam kompleks baru tersebut mengusung tema waralaba populer asal Jepang, Dragon Ball. Meskipun detail penempatan wahana masih dalam tahap pengkajian administratif dan diperkirakan baru rampung pada tahun 2032, rencana ini menandai era kebangkitan destinasi rekreasi di atas atau di sekitar sisa kejayaan masa lalu Mirapolis.