Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan perlunya langkah strategis Indonesia dalam menghadapi peta persaingan teknologi global yang kian dinamis. Di tengah sengitnya rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Indonesia dipandang perlu mengoptimalkan cadangan mineral kritis sebagai daya tawar utama dalam diplomasi digital guna mengamankan akses teknologi dan kemitraan manufaktur semikonduktor.
Dalam gelaran Jakarta Geopolitical Forum, Nezar menyoroti keunggulan komparatif Indonesia yang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, serta menjadi produsen kobalt dan bijih tembaga papan atas. Sumber daya alam ini merupakan komponen vital dalam pengembangan baterai berkinerja tinggi, infrastruktur pusat data, hingga sistem pendingin untuk teknologi kecerdasan artifisial (AI).
Pemerintah kini berupaya memosisikan Indonesia agar tidak sekadar menjadi pasar konsumen atau penyuplai bahan mentah bagi raksasa teknologi global. Strategi ini ditopang oleh empat pilar utama: optimalisasi sumber daya mineral, pemanfaatan pasar digital terbesar di Asia Tenggara, pemberdayaan bonus demografi, serta peningkatan kapasitas komputasi yang terintegrasi dengan pengembangan talenta lokal.
Sebagai langkah konkret menuju visi Indonesia Emas 2045, prioritas pemerintah mencakup pengembangan diplomasi chip, penguatan kedaulatan data, serta pembangunan infrastruktur digital yang berkelanjutan. Nezar menambahkan bahwa keberhasilan transformasi ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan lintas pemerintahan dan kemauan politik untuk membangun institusi yang kuat, bukan sekadar mengejar inovasi sesaat.