LinkedIn, platform jejaring profesional terbesar global, mengambil langkah tegas untuk menyaring konten berkualitas rendah atau spam otomatis yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI) atau biasa disebut sebagai "AI slop". Mulai akhir Juli lalu, platform ini resmi mencabut fitur premium "Write with AI" dan "Enhance your post" guna mendorong interaksi antar-pengguna yang lebih otentik dan bermakna. Sebagai gantinya, LinkedIn kini memfokuskan fiturnya pada alat bantu penyelarasan bahasa atau proofreading.

Vice President of Product LinkedIn, Hari Srinivasan, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil untuk menjaga nilai dasar platform sebagai ruang berbagi perspektif nyata dari para profesional. Guna menyaring unggahan generik, LinkedIn meluncurkan sistem pengklasifikasi (classifier) baru yang dirancang khusus untuk mengidentifikasi konten berkualitas rendah. Sistem ini diklaim mampu menyaring unggahan bermutu rendah serta mengurangi distribusi konten dari luar jaringan pengguna yang terindikasi menggunakan AI generatif secara berlebihan.

Menurut Laura Lorenzetti, Executive Editor LinkedIn Global Editorial, pengujian awal sistem deteksi teranyar ini menunjukkan tingkat akurasi mencapai 94 persen dalam mengenali konten generik. Tidak hanya menyasar unggahan utama, algoritma ini juga mampu memetakan aktivitas otomatis lainnya, seperti komentar singkat dengan keterlibatan manusia yang minim dan respons instan yang sekadar mengulang isi konten asli tanpa memberikan nilai tambah baru.

Kebijakan baru ini menuai tanggapan beragam dari komunitas profesional di LinkedIn. Sebagian pengguna menyambut positif langkah tersebut karena dinilai mampu memulihkan kualitas diskusi dari serbuan konten sampah nirjiwa. Namun, sebagian lainnya menyatakan skeptis karena istilah "AI slop" dirasa terlalu subjektif dan berisiko memicu salah sasaran serta tuduhan tidak adil antar-pengguna dalam algoritma distribusi konten.

Di sisi lain, kekhawatiran juga muncul terkait isu aksesibilitas. Kelompok pengguna dengan kondisi disleksia, ADHD, afasia, atau mereka yang memiliki keterbatasan bahasa kerap mengandalkan kecerdasan buatan sebagai alat bantu menyusun pikiran mereka menjadi tulisan yang terstruktur. Pembatasan yang terlalu ketat dikhawatirkan dapat meminggirkan kontribusi produktif dari kelompok yang membutuhkan dukungan teknologi asistif tersebut.

Menjawab dinamika tersebut, LinkedIn berencana menguji coba sistem penandaan konten secara privat pada dasbor analitik kreator. Hari Srinivasan menegaskan bahwa penilaian keaslian konten ini nantinya akan tetap berpusat pada umpan balik dari pengguna manusia, bukan semata-mata bergantung pada detektor AI otomatis. Langkah ini diharapkan dapat membedakan secara adil antara tulisan yang hanya dipoles menggunakan AI dengan konten yang sepenuhnya diproduksi secara instan oleh mesin.